Tahu Nggak, Sih? Ini Alasannya Kamu Rese Kalau Lagi Lapar

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Renungan
dipublikasikan 21 Agustus 2017
Tahu Nggak, Sih? Ini Alasannya Kamu Rese Kalau Lagi Lapar

Ah, bukan. Ini bukan commercial break makanan ringan yang sempat terkenal beberapa tahun lalu. Saat itu, sempat muncul pertanyaan tentang mengapa orang yang sedang lapar sangat mirip singa? Buas minta ampun. Di balik ganjalan pertanyaan yang ada, ada beberapa alasan mengapa kondisi lapar membawa tubuh kita pada fase-fase hangry, hunger dan angry, yang cukup kritis bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Berikut alasannya menurut IFL Science: The Lighter Side of Science.

Genetik

Pada banyak kasus, faktor gen atau bawaan hampir tidak pernah lepas dari tanggung jawabnya menjadi penyebab berbagai penyakit. Di dalam tubuh kita terdapat gen neuropeptida Y dan reseptor Y1 yang dilepaskan ke otak saat seseorang lapar. Gen tersebut bekerja pada berbagai reseptor di otak dengan merangsang perilaku makan yang rakus serta mengatur respons kemarahan atau agresi pada seseorang. Coba cek, adakah gen tersebut di tubuhmu?

Respon Fisiologis Tubuh

Sebenarnya tidak ada yang berlebihan dengan respon tubuh kita ketika berada dalam kondisi lapar. Meski beberapa orang berubah menjadi hilang kendali, masih ada juga kok orang yang bisa menahan laparnya dengan baik. Bahkan sebagian orang memiliki fokus konsentrasi lebih tinggi ketika sedang lapar. Hanya saja, ternyata ketika kita kelaparan dan membutuhkan energi untuk dibakar, tetapi tidak ada asupan karbohidrat, protein, dan lemak yang cukup, tubuh kita akan mengeluarkan sebuah respon berupa jatuhnya kadar gula dalam darah.

Respon kekurangan kadar gula dalam darah tersebut dianggap sebagai ancaman bagi otak kita karena tidak ada supply makanan untuk seluruh jaringan pada tubuh. Ketika jaringan tubuh kekurangan makanan, diri kita sangat mudah sekali untuk gagal fokus dan melakukan kesalahan lucu tanpa disadari, seperti omongan yang tidak terdengar jelas saat berbicara dan berbicara tanpa arah.

Tak hanya berhenti pada kondisi kekurangan gula, setelah tubuh kekurangan gula, otak akan menginstruksikan hormon stres yaitu glukagon dan adrenalin untuk keluar. Meski kadar gula darah perlahan-lahan menjadi stabil, tubuh yang kebanjiran dua hormon tersebut akan membuat seseorang menjadi ingin marah dan teriak-teriak tak jelas. Kala situasi darurat itu terjadi pun kita akan mudah uring-uringan sendiri dan melupakan norma-norma sosial yang ada. Biasanya pelampiasannya sih terutama pada keluarga serta kerabat dekat, ya kan?

Nurture

Ketika kebiasaan yang ada di lingkungan keluarga dekat maupun lingkungan sosial yang lebih luas memperbolehkan kita mengungkapkan ekspresi kemarahan dan kekecewaan secara langsung hasilnya akan lebih parah. Kebiasaan tersebut akan terbawa hingga tanpa sadar membuat orang-orang tidak bisa mengendalikan kemarahannya ketika ia lapar.

Tapi jangan salah, kebiasaan hangry-mu bisa kamu siasati, lho. Caranya mudah saja, cukup sediakan makanan bernutrisi yang tahan lama untuk mengganjal rasa laparmu, seperti buah, dan menghindari makanan cepat saji, seperti cokelat dan kentang, ketika kelaparan. Mudah, bukan?

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 50