Cerita di Balik Kutipan Sejarah Bangsamu

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 Agustus 2017
Cerita di Balik Kutipan Sejarah Bangsamu

Baru saja Indonesia merdeka, 72 tahun lalu, negara bocah ini masih perlu banyak belajar. Suatu negara tidak bisa mati karena Takdir, tetapi sangat bisa mati karena Nasib. Sebut saja Nasib adalah orang-orang yang menjadikan sebuah negara, negara. Nasib ini tidak mengusahakan kehidupannya. Masih merasa bocah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Berbeda dengannya, negara ini bukan hanya seonggok manusia yang sudah berusia 72 tahun. Komponen negara ini sudah berdiri sejak Bumi tercipta, yang sangat mungkin berisi daging-daging kosong tanpa pikiran merdeka. Jika Kamu menyepakati kalimat daging-daging kosong pikir, mungkin Kamu memang masih ingin dianggap anak-anak.

Aku tidak jahat. Orang-orang di luar sana yang jahat. Orang-orang tanpa pikiran kepentingan golongan yang jahat. Mereka mengingat diri mereka sendiri, lupa, mereka ada di mana. Lupa, dirinya adalah Nasib Bangsa. Komponen sapu lidi. Ya, mereka sendirian dan mudah patah. Tidak percaya pada sejarah yang bahu-membahu menaiki puncak kemerdekaan negara ini. Sejarah tentang cara membangunnya, bukan langkah membungkamnya. Membungkam daun untuk tumbuh, sama dengan mempersilakan pohon untuk tetap kerdil, bukan?

Tapi yang lebih penting, relakah sang Nasib dipersilakan untuk tetap kerdil? Bukankah ketika bicara tentang kerelaan, bicara tentang ketaatan, kita otomatis berbicara pula tentang kematian? Memilih dipersilakan untuk mati sebelum waktunya, siapa yang mau? Konteks menjadi si Nasib di masa lalu, dengan kebanggaan untuk tidak ingin patuh pada penjajah dan “penjajah” membuat dirinya mengetahui apa itu merdeka dari kematian. Si “penjajah” hari ini masih tetap ada. Dia otokrat pada kembang biak bibit kemerdekaan si Nasib. Mungkinkah dia itu, Kamu? Ah, pasti Kamu.

Aku percaya itu Kamu. Meski Kamu tidak merasa mengerdilkan si Nasib, aku melihat realita yang ada. Aku  menyayangkan pohon-pohon besar dan kuat itu mulai tumbang melepaskan cengkraman salah satu akarnya pada Bumi. Tapi si Nasib bukan pohon besar, ia kumpulan jiwa-jiwa dengan kesadaran penuh yang sedang terkena sihir manipulasi anti perlawanan. Sedetik setelah sihirnya habis, kekuatan dalam alam bawah sadar yang selama ini berteriak-teriak meminta perlawanan untuk membentuk kemerdekaannya sendiri akan kembali bangkit. Mari bangkit bersama, untuk ribuan tahun lagi. Indonesia Hebat! 

 

 

  • view 20