Cegah Anak Terkena Gangguan Jiwa Akibat Belajar! Gunakan Cara Ini

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 15 Agustus 2017
Cegah Anak Terkena Gangguan Jiwa Akibat Belajar! Gunakan Cara Ini

Hari ini, kita tidak asing lagi ketika aturan tentang pendidikan untuk anak-anak dan pelajar mengalami perubahan. Sistem selalu diperbaharui agar pelajar kita juga bisa mengalahkan anak dari berbagai bangsa lain yang memiliki kemampuan untuk membuat kita semua berdecak kagum. Pada pendidikan, stres yang dialami anak tidak bisa dianggap sebagai proses normal belajar mengajar, Inspirator. Jika berada dalam tekanan, acap kali pesan penuh makna tidak sampai pada anak-anak.

Parahnya, masih terdapat anak-anak yang menganggap sekolah dan pendidikan bukan hal menarik untuk mengembangkan diri. Menurut Youki Terada, 8 dari 10 orang anak remaja menganggap sekolah sebagai sumber stress hidup mereka, lho. Sedangkan pada penelitian tentang keinginan bunuh diri dan kesehatan mental, menurut Denisse Moreno, terdapat sejumlah besarnya mengalami kepanikan, gangguan kecemasan, dan depresi. Lalu, bagaimana cara kita menghindari anak-anak mengalami kegilaan karena sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan jati diri seorang anak?

Bangun Kesadaran

Kesadaran ini tidak hanya pada anak-anak yang dipaksa untuk sadar. Lingkungan sekitarnya pun bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada proses pendidikan anak-anak. Sehingga, dibutuhkan kepekaan untuk mengenali anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda gangguan mental sebelum ia melakukan hal-hal tidak terduga. Berikan pertolongan dalam bentuk apapun yang dirasa berarti bagi kesembuhan mentalnya.

Self-Confidence is Everything

Percaya diri tidak mudah didapatkan oleh banyak orang. Tetapi, bukan berarti tidak bisa untuk ditumbuhkan. Menurut Ron Goldman, CEO Cognito, dan Dr. Glenn Albright, peneliti psikologis anak-anak yang mengalami gangguan mental akibat belajar, dibutuhkan percakapan intensif serta keterampilan tersendiri berdasarkan kondisi masing-masing anak untuk membangun rasa percaya dirinya. Percakapan dengan feedback membangun akan berperan penting membuat anak-anak lebih percaya diri. Mulailah dengan sikap terbuka tanpa perlu menghakimi untuk menjadikan anak percaya pada kita sebelum akhirnya percaya pada dirinya sendiri.

Refleksikan Nilai

Nilai yang direfleksikan dan dievaluasi bukan nilai 60 pada pelajaran Matematika, lho. Refleksi nilai tersebut lebih fokus pada mengingat kembali makna yang dianut oleh hidupnya selama ini, seperti apa yang mereka pikirkan dan yakini tentang sebuah hubungan bersama keluarga, tanggapan tentang nilai-nilai keagamaan, hingga tanggapan tentang pengetahuan. Kembali pada dasar makna segala sesuatunya berawal, akan mengingatkan kita pada apa yang penting dan tidak untuk masa depan. Hal tersebut dikenal sebagai Wise Psychological Intervention agar pola pikir anak-anak tentang belajar dan pengembangan dirinya tidak hanya dengan memfokuskan diri pada kemampuan akademik semata.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 74