Stop Kekerasan Pada Siapapun! Hindari 4 Hal Perusak Jiwa-Ragamu Ini

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 04 Agustus 2017
Stop Kekerasan Pada Siapapun! Hindari 4 Hal Perusak Jiwa-Ragamu Ini

Semua orang mendefinisikan kekerasan sebagai bentuk ekspresi rasa marah dan rasa kecewa. Kekerasan merusak jiwa-raga dan komunitas. Kekerasan ternyata tak hanya tentang cara mengungkapkan perasaan. Kekerasan merupakan masalah sosial dan kesehatan bagi orang-orang yang mengalami maupun melihat tindakan tersebut, bagaimanapun bentuknya. Menurut Human Diseases and Conditions Forum, ada empat penyebab seseorang melakukan kekerasan yang masih bisa dihindari maupun tidak.

Genetika

Genetika seseorang yang mendukung terjadinya kekerasan dibawa oleh kromosom dari orang tua kepada dirinya. Beberapa kasus dalam penelitian, agresivitas dapat diwariskan. Gen MAO-A (Monoamine oxidase A) atau biasa disebut warrior gene; DAT1 atau dopamine transporter; dan DRD2 atau dopamine receptor adalah sumbernya. Tiga gen tersebut terdiri dari enzim yang berfungsi untuk mentransmisikan hormon serotonin, dopamin, dan norepinefrin pada syaraf. Kerusakan tiga gen tersebut, menurut Dolores Garcia-Arocena, akan meningkatkan agresivitas diri karena kestabilan sistem pengendali mood terganggu.

Menurut Jari Tiihonen, profesor dalam bidang psikiatri, lebih dari 500 pelaku kekerasan memiliki genotipe dalam diri bersamaan dengan penganiayaan yang terjadi pada dirinya di masa kecil. Tak hanya itu, adanya pengaruh alkohol atau amfetamin maupun stimulan lain dapat meningkatkan agresivitas. Niat baik untuk mengurangi kemarahan dengan beberapa hal tersebut hanya akan memperburuk keadaan, lho. Keadaan genetik dan lingkungan mendukung lebih parahnya risiko tindakan kekerasan di masa depan.

Kerusakan otak

Cedera pada bagian amygdala otak, yang terletak di lobus anterior temporal, bisa menghilangkan beberapa kontrol pribadi atas kemarahan dan agresi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Drew Barzman, John Kennedy, dan Manish Fozdar pada veteran perang, kegagalan kontrol diri tersebut karena terdapat luka jaringan di bagian depan otak para pelaku kekerasan. Sehingga, reaksi diri sudah tidak tertahankan lagi karena pusat pengendalinya terganggu. Tak hanya berdampak pada keinginan untuk berbuat kekerasan, orang-orang dengan kerusakan bagian otak ini akan mudah melakukan tindakan kriminal lainnya.

Gangguan Kepribadian Antisosial

Istilah sosiopat dan psikopat terkadang digunakan untuk menggambarkan orang dengan gangguan kepribadian antisosial. Orang dengan gangguan kepribadian antisosial sering berperilaku luar biasa bahkan saat masih anak-anak. Mereka amat mungkin mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Orang-orang dengan gangguan ini seolah tidak mengerti bahwa kekerasan merugikan orang lain serta yang benar dan yang salah. Gangguan kepribadian dan kekerasan ini, menurut Richard Howard, tidak bisa lagi hanya ditentukan oleh pertanyaan pada apa jenis gangguannya, tapi dengan bagaimana tingkat kerusakan yang terjadi serta apa motivasi yang mendasari kekerasan tersebut.

Pemodelan sosial

Banyak orang belajar dari observasi dan meniru lingkungan sekitarnya. Ketika ia diminta untuk tidak berkata kasar oleh orang tuanya, ia akan tetap berkata kasar selagi orang tuanya secara tidak sengaja berkata kasar di depannya. Terus-menerus melihat kekerasan di rumah, di komunitas, atau di televisi pun dapat membuat seseorang orang percaya bahwa kekerasan adalah bagian normal kehidupan. Begitu juga dengan banyak hal lainnya. Model perilaku positif perlu dilakukan oleh banyak orang pada anak-anak dan remaja sedini mungkin. Sehingga, usaha untuk menyudahi kekerasan tidak hanya bisa dihentikan oleh satu orang, aku saja. Tetapi perlu kamu, dia, mereka, dan kita semua.
 
 




 
*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 142