Bisnis dan Penyandang Disabilitas; yang Kamu Perlu Pelajari dari Mereka

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 02 Agustus 2017
Bisnis dan Penyandang Disabilitas; yang Kamu Perlu Pelajari dari Mereka

Pernahkah Kamu mengunjungi rumah orang-orang yang mengalami disabilitas? Seberapa sering Kamu berbicara dengannya tentang mimpi-mimpi dan masa depan? Mereka terlihat berbeda dan tidak normal dibandingkan kebanyakan orang. Tetapi, tidak sedikit para difabel (orang dengan disabilitas) yang memiliki mimpi luar biasa hebat dibandingkan dengan orang normal. Hasil pencarian dalam mesin pencari Google dapat dengan mudah kita temui siapa saja difabel sukses keluar dari cangkang penilaian masyarakat bahwa mereka tidak bisa apa-apa dan tidak bisa menjadi manusia seutuhnya.

Bohong. Apa yang kebanyakan orang normal katakan pada difabel tidak bisa dipercaya. Semua manusia hidup berhak mendapatkan kemanusiaannya sendiri. Hak untuk hidup normal, hak untuk dianggap sebagai manusia, dan utamanya, hak untuk bisa menjaga mimpinya sendiri. Toh tanpa mimpi dan angan-angan kita tidak bisa menata jalan menuju masa depan dengan perlahan-lahan berusaha, bukan? Tidak hanya angan-angan yang seluas samudera, menurut Jim Belosic, CEO Pancake Laboratories, kesabaran dan fleksibilitas membantu kita bertahan saat masa-masa sulit.

Patience and flexibility help you survive the lean times – Jim Belosic

Difabel awalnya tidak mengerti mengapa mereka dianggap aneh karena perbedaannya dengan orang lain, terutama pada orang-orang yang memiliki pengetahuan kurang untuk menghadapi para difabel. Sama seperti difabel, pebisnis di awal-awal karir pun psikisnya dihajar oleh lingkungan bisnisnya. Ada saja penghadang dan pencuri semangat yang membuat kita ingin menyerah dalam berbisnis. Ketika kita menganggap tantangan bisnis sebagai kondisi yang sama dengan orang-orang difabel, apa yang akan dilakukan?

Alette Coble-Temple, misalnya. Seorang psikolog yang kebetulan difabel dengan cerebral palsy dan kesulitan bicara parah. Ia di sepanjang hidupnya hanya bisa menggunakan kursi roda. Selama ia hidup, ia ingat pernah dikatakan tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan tidak bisa memiliki keluarga layaknya orang-orang normal lain. Nyatanya tidak, ia saat ini menjadi profesor psikologi klinis di John F. Kennedy University dan memiliki anak perempuan berusia 13 tahun. Setelah seumur hidupnya berusaha keras mencari celah, melihat kondisi, dan membalikkan stigma masyarakat.

Selanjutnya, apakah Kamu bisa memposisikan diri dan bisnismu seperti orang-orang difabel sukses memposisikan dirinya lebih dari ekspektasi normal lingkungannya?
 
 
 



*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 45