Don’t Judge a Book By It’s Cover! Hindari Salah Nilai

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 02 Agustus 2017
 Don’t Judge a Book By It’s Cover! Hindari Salah Nilai

Secara alami, diri kita mampu menilai orang lain berdasarkan pengalaman masa lalu. Ketika seseorang berbuat seperti ini, otomatis di pikiran kita terdapat suatu kesimpulan mengenai orang tersebut. Masalahnya, penilaian kita tidak selamanya benar. Ada orang yang mampu menyembunyikan keaslian dirinya dengan sempurna hingga tidak satu pun orang di sekitarnya mengetahui siapa dia sebenarnya. Itulah sebabnya kita seringkali salah menilai seseorang dan muncul ungkapan Don’t Judge a Book By It’s Cover.

Penelitian Raymond S. Nickerson, dari Tufts University, pun mendukung misjudge yang kita lakukan selama ini. Pada penelitian itu diuji seorang anak yang melihat pinata, permainan terkenal dari Meksiko di mana seorang anak dihadapkan pada boneka berisi permen atau hadiah, dan memukulnya hingga keluar cokelat serta manisan. Setiap dihadapkan oleh pinata, anak tersebut kegirangan. Sampai pada suatu percobaan, sebuah pinata diisi oleh bungkusan buah serta sayur dan anak tersebut kecewa. Kekecewaan anak tersebut muncul karena asumsi dan penilaiannya sendiri setelah ia memiliki pengetahuan berbentuk pengalaman.

Shahram Heshmat, Professor Health Economics University of Illinois, memiliki kiat khusus agar tidak mudah menilai seseorang yang baru berdasarkan pengalaman kita bersama orang-orang di masa lalu. Pertama, tidak perlu meramal, dalam artian menduga, apa yang akan terjadi. Menduga suatu kejadian di masa depan dengan mengaitkan dugaan kejadian tersebut atas apa yang terjadi di masa lalu memaksa kita untuk membuat kepercayaan palsu menjadi kenyataan. Sehingga kita tidak mampu mengendalikan diri agar memberikan kemampuan terbaik pada setiap situasi.

Ada seorang pelayan restoran yang menginginkan uang tip lebih besar memiliki hipotesis tentang orang dengan pakaian bagus memberi uang tip yang layak dan orang berpakaian buruk itu tidak. Ia bertindak berdasarkan kepercayaan ini, dia menggerakkan ramalan yang dipenuhi sendiri dengan memberikan tingkat layanan yang berbeda berdasarkan penampilan pelanggan. Ketika restoran sedang sibuk, pelanggan berpakaian bagus meninggalkan tip di atas rata-rata, dan pelanggan berpakaian buruk tidak melakukannya. Namun, itu justru karena tingkat layanan berbeda yang diberikan pelayan tersebut bukan karena pakaian yang pelanggan kenakan.

Selanjutnya ada transference. Umumnya, kita tertarik pada orang lain berdasarkan kemiripan mereka dengan orang-orang penting yang sebelumnya dianggap positif oleh otak kita. Misalnya dengan asuhan orang tua yang mampu mengajarkan kita mengelola emosi dengan baik untuk tidak berperilaku buruk. Memori kita otomatis mengikuti hal-hal positif dan tidak tertarik dengan orang-orang yang memiliki masalah dalam pengendalian emosi. Walaupun begitu, kondisi tersebut hanya masalah penafsiran dari isyarat-isyarat yang mengingatkan kita pada sebuah situasi di masa lalu.

Hindari pelampiasan emosi berdasarkan isyarat, Inspirator. Hadapi hal baru dengan positif. Semua hal berawal dari pilihan kita. Harapan atau ekspektasi membuat kita menolak atau menerima sesuatu tanpa sadar. Apakah kita bisa mengelola semua harapan yang pernah terlintas di pikiran dengan baik? Berdasarkan banyak penelitian ilmiah, apa yang diharapkan terjadi cenderung sangat mempengaruhi apa yang sebenarnya terjadi, lho!

 

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 70