Saran Psikolog tentang Hukuman: Pak Polisi, Jangan Tilang Saya!

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 01 Agustus 2017
Saran Psikolog tentang Hukuman: Pak Polisi, Jangan Tilang Saya!

“Total biaya denda untuk bayar pelanggaran kamu barusan tujuh ratus lima puluh ribu ya, dek. Via Bank *** nanti baru bisa diambil kembali SIMnya”

“Pak, Saya masih pelajar, belum mampu membayar Tilang”

 “Yasudah, orangtua Kamu yang bayar tilangnya. Atau Kamu bayar biaya denda minimalnya aja, ya. Dua ratus lima puluh ribu.”

“Saya cuma ada seratus lima puluh ribu, Pak.”

“Ya sudah nggak apa-apa segitu”

“Ini perlu lewat Bank tidak, Pak, bayarnya?”

“Nggak perlu, kasih ke saya saja.”

Mengingat percakapan di atas, para pengendara sepeda motor di hampir segala usia yang pernah mengalami, atau diceritakan, kasus bukti pelanggaran (tilang) pasti mengerti. Ada juga yang berpengalaman dimarahi orang tua karena kelalaian diri dan perilaku “suka-suka gue”. Dimarahi atasan karena tidak mengikuti prosedur pun, mungkin, sering. Dihukum setelah ketahuan berbuat sesuatu di luar kendali tak bisa dielakkan lagi.

Ingatkah Kamu, hukuman apa saja yang pernah dialami sampai hari ini di usia ke- sekian tahun? Dilarang ke luar rumah, misalnya? Atau gaji dikurangi, plus ada tambahan waktu lembur tanpa bayaran? Hal itu biasanya dilakukan untuk memberikan ganjaran yang setimpal atas apa yang dilakukan. Harapannya, hukuman tersebut mampu “mengajari pelaku” untuk berubah pada perilaku yang diinginkan oleh norma dan peraturan di masyarakat. Namun, benarkah dengan adanya hukuman, perilaku “buruk” itu pun berangsur berubah? Tidak juga, ya.

Menurut James Lehman, menghukum seseorang dengan cara seperti itu belum membuat orang-orang yang berperilaku tidak sesuai aturan bisa langsung taat pada norma. Mereka pada akhirnya akan beradaptasi dengan situasi yang ada serta sulit berhenti melakukan sesuatu yang tidak baik, bukan belajar dari apa yang coba kita ajarkan. Terlebih, ada sifat hukuman yang membatasi ruang gerak seseorang untuk memilih sesuatu yang pas dengan kondisi dirinya. Sifat hukuman itu akan membuat dirinya tidak berkembang ke arah perilaku terbaiknya.

Saat ini, di berbagai sekolah serta pendidikan di rumah masih mengadaptasi hukuman fisik untuk dilakukan ketika seorang anak atau remaja bertindak anti-norma. Hal itu berdampak pada rasa takut dan agresivitas diri seseorang di masa dewasanya. Ia akan mudah bertindak agresif, memiliki perilaku anti-sosial, dan berbagai gangguan mental karena hukuman fisik mampu menyembunyikan perilaku buruknya dengan kuat untuk dilepaskan esok hari tanpa diketahui oleh orang yang menghukumnya.

Hal yang sama terjadi di tempat kerja. Ia akan rentan bekerja dalam keadaan takut, cemas, menghambat perkembangan, dan mengisolasi diri sendiri. Kejadian seperti di atas akhirnya mengerucut pada satu hal, kecerdasan emosional seseorang menjadi terabaikan. Padahal, menurut Reham Al Taher, Psikolog, dengan menjelaskan serta bernegoisasi, orang-orang yang tidak paham tentang mengapa ada aturan atau norma akan terbantu mengembangkan internalisasi peraturan tersebut.

Bentuk pendisiplinan tersebut memungkinkan mereka melihat suatu nilai yang terkandung di dalamnya dan menegakkannya. Hal itu memungkinkan seseorang bertanggung jawab atas tugas dan keputusan mereka sendiri dan menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka untuk meminta pertolongan, mencari kesalahan yang telah mereka buat, atau berharap dapat bekerja dengan orang lain untuk menciptakan suatu inovasi.

 

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

 

  • view 167