Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 27 Juli 2017   19:56 WIB
Fanatisme Bisa Disembuhkan?

 

Fanaticism is the only way to put an end to the doubts that constantly trouble the human soul” 
― Paulo Coelho

Gangguan rasa aman ketika menonton sebuah pertandingan olahraga seringkali terancam oleh para pendukung tim yang sedang bertanding. Mereka mendadak beringas ketika militansi dukungan untuk tim kesayangan ditantang tim lawan. Lebih sering, mungkin di dalam hatinya, orang-orang dari kedua tim siap untuk saling teror dan baku hantam antar pendukung. Ya, antar pendukung, bukan si pemain one-on-one saat pertandingan.

Tingkah pendukung tim olahraga memang macam-macam dan tidak bisa menjustifikasi semua pendukung tim selalu bertindak barbar. Fenomena hooliganism saat pertandingan olahraga pun terjadi di berbagai belahan bumi lain, tak hanya ada di Indonesia. Jadi, Orang-orang Indonesia tidak bisa dibilang kampungan ketika melakukan tindak tanduk anarki yang menjadi kepala berita dalam surat kabar. Lalu, tak perlu juga menjelaskan lebih rinci tentang siapa yang alay dan siapa yang keren dalam konteks kericuhan di ladang-ladang olahraga. Namun, semua unsur yang berperan langsung di bidang olahraga tersebut perlu bertanggung jawab atas stigma mereka di masyarakat.

Menurut Arjun Ray, untuk mendapatkan ketenangan serta euphoria terhadap suatu hal, misalnya nikmatnya menonton pertandingan olahraga, ketenangan tersebut perlu diusahakan oleh semua orang dan tidak bisa ditanggung oleh beberapa pihak saja. Bahkan, dalam bukunya yang berjudul Peace is Everybody's Business: A Strategy for Conflict Prevention, ia menuliskan, “there is a thin, blurred line between militancy and terrorism that most political thinkers and security specialists are unable to discern”. Kesadaran dari masyarakat sendiri lebih kuat dibandingkan para ahli sekalipun. Tanggung jawab mereka cukup besar untuk menuntaskan cerita panjang kekerasan di berbagai bidang kehidupan, salah satunya bidang olahraga.

Militancy is political, terrorism is nihilistic” – Arjun Ray

Bisakah kita menyembuhkan “hooliganism” dari sekumpulan orang fanatik?

Banyak kasus yang telah mengiris-iris nadi kemanusiaan kita sebaiknya perlu dicukupkan untuk menjadi efek jera. Menurut Margot Wallströ, U.N. special representative of the secretary general on sexual violence in conflict, pencegahan agar hal-hal menyedihkan itu tidak terulang adalah dengan menggunakan jalan demokrasi, pendidikan, penyebarluasan informasi, termasuk memberikan momen refleksi dari berbagai pihak. Selain itu, mampu berbesar hati bahwa kelompok kita tidak selalu menjadi kelompok paling benar dan superior di atas yang lainnya memberi peluang besar untuk perlahan-lahan menyembuhkan fanatisme.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

Karya : Inspirasi Entrepreneurship