Beruntung atau Tidak Bukan Salahmu. Tapi, Salahkah Perspektifmu?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Juli 2017
Beruntung atau Tidak Bukan Salahmu. Tapi, Salahkah Perspektifmu?

Kita semua tahu, keberuntungan secara umum diartikan sebagai nasib baik, yang telah digariskan Tuhan, pada seseorang. Mendapatkan keberuntungan, katanya seperti mendapat durian runtuh yang terbuat dari emas 24 karat. Ada orang yang keberuntungannya datang terus menerus, membuat orang sebelahnya iri, ada juga yang selalu sial tanpa keberuntungan.

Penjelasan tentang keberuntungan diamini oleh banyak orang tanpa menyadari bahwa “merasa beruntung” hanyalah perspektif evaluatif diri kita, Inspirator. Menurut Chengwei Liu dan Mark De Rond, keberuntungan adalah atribusi psikologis yang digunakan seseorang untuk menanggapi peristiwa yang teramati. Ketika kita menerima kesialan, peristiwa yang sama dapat ditafsirkan berbeda tergantung pada informasi yang tersedia, situasi di mana penjelasan ditawarkan, atau motivasi untuk memberikan penjelasan.

Pernah mendengar kisah tentang orang tua bijak dan warga Desa Khayangan? Ceritanya, hidup seorang nenek dengan keterbatasan ekonomi tinggal bersama anaknya yang masih muda dan seekor kuda. Nenek tersebut sangat bijak. Suatu ketika warga desa mengira nenek tersebut sedang ditimpa kesialan karena kuda yang dimiliki mengamuk tak terkendali, meremukkan tulang kaki anaknya hingga ia tidak bisa bekerja, dan hilang. Nenek tersebut berkata, “Kita belum tahu mana yang benar-benar membuat kita sial dari apa yang terjadi hari ini, yang terlihat saat ini hanya separuh bagian dan belum bisa disimpulkan”.

Ternyata, keesokan harinya ada tentara desa mewajibkan seluruh anak muda untuk mengikuti perang wilayah dan langsung dibawa ke tempat pelatihan saat itu juga. Seluruh anak muda di desa tersebut, termasuk anak-anak warga yang mengira sang nenek ditimpa kesialan, mengerti apa yang dimaksud nenek tersebut. Kesialan yang dialami anaknya dianggap sebagai keberuntungan.

Kebijaksanaan serta cara pandang sang nenek terhadap suatu masalah mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Richard Wiseman, psikolog dari University of Hertfordshire dan penulis buku The Luck Factor. Perbedaan antara orang yang beruntung dengan orang yang sial hanyalah perspektif. “The unlucky people tended to miss it and the lucky people tended to spot it”.
 

Sisi positifnya, saat merasa selalu beruntung, semangat yang muncul bisa membuat kita bekerja lebih keras dan merencanakan semua hal dengan lebih baik. Termasuk lebih memperhatikan hal-hal yang tidak terduga dan memanfaatkan peluang tersebut untuk hidup yang lebih baik. Menurut John Maltby, psikolog dari University of Leicester, dampak yang akan terjadi ketika kita merasa tidak beruntung adalah sebaliknya, merugikan dan mengerdilkan diri sendiri.

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 71