Sesat! Jangan Membaca Tulisan Ini! Tapi Malah Ingin Kamu Baca. Itukah Taktik?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 27 Juli 2017
Sesat! Jangan Membaca Tulisan Ini! Tapi Malah Ingin Kamu Baca. Itukah Taktik?

Pernah melihat promosi restoran di pinggir jalan “Jangan Menengok ke Kiri, Ada Restoran Enak” atau sejenisnya? Lalu, apa reaksimu pertama kali? Adakah keinginan untuk melirik sedikit? Kalau ada, Kamu berarti terkena efek teori reaktansi atau reverse psychology, Inspirator.

Menurut Michael Pantalon, efek psikologi terbalik terjadi ketika seseorang menginginkanmu untuk menuruti apa keinginannya, ia memicu dirimu dengan cara memberi tahu yang sebaliknya dari tujuan utamanya. Misalnya Kamu berambisi ingin mencapai suatu tetapi orang di sekitarmu berkata “Aku nggak yakin Kamu bisa”, harga diri dan egomu pasti tertampar dan ingin membuktikan sesuatu. Akibatnya, Kamu ingin sekali “mengambil kembali” kendali dirimu darinya.

Psikologi terbalik ini awalnya diteliti oleh Timothy D. Wilson dan G. Daniel Lassiter, yang mengarahkan pada pendefinisian teori reaktansi setelah penelitian ini dilakukan tahun 1982. Saat itu subyek penelitian adalah kelompok anak-anak yang diberi beberapa jenis mainan. Mereka kemudian membagi anak-anak dalam 2 kelompok. Kelompok pertama diberi tahu untuk bermain dengan mainan apa pun yang mereka inginkan. Tetapi kelompok kedua diminta bermain dengan semua mainan selain dari mainan yang tidak mereka sukai dan melarangnya bermain dengan mainan yang sebenarnya mereka inginkan.

Hasilnya, anak-anak di kelompok kedua bermain 3 kali lebih lama dengan mainan terlarang tersebut. Eksperimen lainnya dilakukan pada orang dewasa dan menunjukkan hasil yang serupa. Ketika kita melarang seseorang untuk menggunakan, memperlakukan, merasakan objek tertentu, hal itu menjadi lebih diminati. Ingat cerita klasik Romeo dan Juliet? Kisah cinta abadi tersebut dianggap abadi karena keduanya mencintai sampai maut memisahkan. Awalnya, kisah cinta mereka dilarang keras oleh keluarga kedua belah pihak.

Tak hanya untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita mau, provokasi dengan memberikan psikologi terbalik dianggap mampu untuk menyadarkan orang lain yang memiliki perilaku tidak masuk akal. Namun, tidak selamanya efek psikologi terbalik ini berbuah manis pada target umum. Efek tersebut biasanya hanya berlaku pada seseorang yang cenderung merasa dirinya memegang kendali atas segala sesuatu atau control freak, orang dengan kepribadian Tipe A, dan orang-orang dengan kecenderungan narsistik, hingga psikopat. Sehingga, provokasi teori reaktansi ini bekerja paling baik bila target populasi berada dalam keadaan emosional dan tidak berpikir.

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

 

 

  • view 121