Mengingat Puisi, Mengingat Sejarah Penyair Kebanggaan Indonesia

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Juli 2017
Mengingat Puisi, Mengingat Sejarah Penyair Kebanggaan Indonesia

Selamat Hari Lahir Bung Chairil!

Pecinta sajak lepas tak akan lupa memberi panjatan doa untuk salah satu pelopor puisi modern Indonesia itu, penyair puisi AKU yang mendunia hingga menjadi monumen di beberapa tempat. Paling dekat dan terlihat, patung Chairil Anwar berada di Monumen Nasional. Beberapa anak muda mengaitkan puisi dengan Chairil Anwar. Padahal, tak hanya bapak penyair tersebut yang sempat merasakan publikasi karya secara luas. Berikut terdapat penyair-penyair kebanggaan indonesia angkatan Poedjangga Baroe, 45, dan 66.

Amir Hamzah
Tengku Amir Hamzah atau dikenal sebagai Amir Hamzah adalah penyair dan pahlawan nasional dengan julukan Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe. Isi puisi Amir Hamzah lebih dominan pada cinta dan agama karena konflik batin mendalam dirinya saat itu. Puisi terkenal darinya adalah “M4BUK” dan “Sunyi” dari 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan yang sempat dipublikasikan. Puisi karyanya diakui internasional dari era Pra-Revolusi Nasional Indonesia.

Sitor Situmorang
Tak banyak orang mendengar nama Sitor Situmorang. CNN Indonesia mengenang Sitor Situmorang sebagai penulis berbahaya. Tak sedikit pula orang-orang yang menjulukinya sebagai penyair agung karena telah menulis lebih dari 600 sajak. Sitor Situmorang merupakan tonggak perkembangan baru puisi Indonesia. Lulusan pendidikan sinematografi dari University of California ini membuat Esai Sastra Revolusioner yang membawanya ke dalam bui karena dugaan pemberontakan pada 1967-1975. Setelahnya, pada tahun 1981 ia menetap di luar negeri dan menjadi dosen di Universitas Leiden, Belanda hingga ia pensiun tahun 1991.

Sutardji Calzoum Bachri
Bung Tardji panggilannya. Beliau adalah anak kelima dari sebelas bersaudara yang terkenal sebagai pelopor puisi kontemporer di Indonesia. Penghargaan terhadap karya-karyanya pernah diberikan oleh Kerajaan Thailand pada tahun 1979 dalam SEA Write Award. Puisi-puisinya dianggap sebagai puisi pembebasan dari belenggu yang mengerdilkan kreativitas. Bung Tardji menganggap untuk menulis puisi membutuhkan semangat untuk mengembalikan fungsi-fungsi kata, dimana kata-kata tercipta atas dirinya sendiri bukan dari prasyarat sebelum puisi lahir.
 



 
*Dikutip dari berbagai sumber
 

  • view 266