Mungkinkah Selama Ini “Pilihan Kita” Bukan Berasal dari Diri Kita?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 26 Juli 2017
Mungkinkah Selama Ini “Pilihan Kita” Bukan Berasal dari  Diri Kita?

J.K Rowling, dalam bukunya Harry Potter and the Order of the Phoenix, pernah menuliskan tentang cara memilih mana yang baik atau buruk untuk diri kita. Dia menuliskan, “We've all got both light and dark inside us. What matters is the part we choose to act on. That's who we really are”. Semua orang pernah kebingungan menentukan pilihan sebelum akhirnya mampu memutuskan sesuatu yang dirasa cocok bagi dirinya.

Kadangkala beberapa orang tidak membutuhkan alasan untuk menyukai satu hal. Tetapi di lain situasi, ia memerlukan alasan paling kuat agar bisa bergerak mencapai satu hal. Menurut Suhaas Kaul, seseorang mampu memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya pada berbagai hal tidak bisa lepas dari tuntutan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, orang pertama nyaman menjalani hidup berpedoman intuitif berdasarkan pada apa yang mereka percaya tentang dunia (mengapa), bukan hanya karena sesuatu yang tersedia (apa).

Mengapa harus “mengapa” yang lebih penting daripada “apa”? Sistem limbik otak kita punya jawabannya. Sistem limbik bertanggung jawab pada sisi emosional kita terutama pada insting dasar, visual, orientasi jangka pendek, konkret, dan tidak mampu berfungsi untuk mengganalisis masalah maupun ide kompleks. Sistem limbik ini mengatur “selera” tampilan visual yang terlihat oleh mata kita, paling dekat terlihat dari lingkungan sekitar kita beserta orang-orangnya. Sensor dari mata di terima oleh otak bersamaan dan diri kita mendapatkan kesimpulan emosional atas hal-hal terkait warna atau keindahan yang mungkin menipu, lho.
 

 
Terlebih, ketika bicara visual yang di sensori oleh otak, dahulu pernah ada masalah politik Apartheid yang sangat berdampak pada banyaknya gangguan kejiwaan, kesehatan, dan kemanusiaan. Pada masa itu, orang kulit hitam dianggap “bawaannya” memang kurang kompeten dan inferior. Berbeda dengan orang kulit putih yang secara alami dianggap lebih tinggi derajatnya dan berkompeten.

Menurut John Dommisse, supremasi orang kulit putih saat itu membangun narsisme akan persepsi diri orang-orang itu dengan orang-orang berkulit selain putih, yaitu hitam bahkan berkulit orang Asia. Sehingga, pengaruh dari apa yang kita pilih, atau apa yang kita percaya, selamanya masih bisa di modifikasi serta di intervensi. Mungkinkah selama ini “pilihan kita” sebenarnya bukan pilihan kita?
 
 



*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 86