Apa Penyebab Selera Musik Kita Berbeda?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Inspiratif
dipublikasikan 26 Juli 2017
Apa Penyebab Selera Musik Kita Berbeda?

Kamu mendengar lagu kesukaan temanmu, lagunya pop, ada juga yang slow rock. Tapi, kamu suka mendengar lagu-lagu klasik dan hip hop-dance. Kalau ditanya, kenapa mereka suka lagu itu, mereka akan jawab “karena suka saja” atau “enak, sih, bikin semangat”. Padahal, menurutmu biasa saja atau malah kurang menyemangati. Pernahkah kamu melakukan riset pada beberapa teman terdekatmu tentang musik kesukaan mereka?

Banyak riset ilmu psikologi mendukung fakta preverensi tentang lagu kesukaan tidak datang ketika kita dewasa. Ada pengetahuan musik sejak kecil pada rentang usia sekitar 12 tahun, atau saat seseorang mengenal macam-macam melodi dari lingkungannya. Lantunan melodi tersebut masuk ke otak seseorang dan otaknya otomatis mencocokan jenis musik tersebut dengan berbagai kondisi emosional dalam dirinya.

Saat masa remaja akhir, tepatnya pada usia 18-20 tahun, seseorang akhirnya bisa menyimpulkan bahwa ia menyukai suatu lagu atau membenci suatu lagu dari berbagai pengalaman dan pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Menurut Daniel Levitin, peneliti saraf, seseorang lebih tertutup akan kemungkinan “masukan baru” dalam hidup bermusiknya ketika ia menapaki akhir masa-masa remajanya. Walaupun tidak menutup kemungkinan juga, selera musiknya berubah ketika dewasa.

Menurut Joan Serra, peneliti yang melakukan penelitian tentang pengukuran dan evolusi musik menemukan dalam penelitiannya. Ketika kita mendengarkan lagu baru, selain ada perbedaan cara memainkan dari masing-masing alat musik, sebenarnya sebuah lagu dikatakan "baru" karena lagu tersebut dikomposisi atau dibuat lebih keras. Berdasarkan analisis dari 464.411, ada nada, suara, dan kenyaringan yang berubah. Sehingga membuat kita semua berpikir bahwa itu lagu baru.

 

  

*Dikutip dari Elite Daily.

  • view 37