Pekerjaan Manusia Ini Tidak Bisa Digantikan Robot

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Teknologi
dipublikasikan 25 Juli 2017
Pekerjaan Manusia Ini Tidak Bisa Digantikan Robot

Hidup di zaman serba mudah seperti sekarang ini karena ada teknologi, terlebih teknologi digital, membawa kita pada bayangan “Apa kabar jika kita sampai usia untuk hidup di masa depan? Akankah pekerjaan kita saat ini menjadi pekerjaan yang dapat digantikan oleh robot atau teknologi lainnya?” Menurut Paul Roehrig, untuk mengalahkan robot beserta teknologi lain yang berpotensi untuk menggantikan pekerjaan kita saat ini adalah bekerja dengan lebih manusiawi.

To beat the bot, you need to be more human” - Paul Roehrig

Bekerja lebih manusiawi maksudnya adalah menggunakan keterampilan-keterampilan yang tidak bisa dibuat oleh manusia untuk menyerupai manusia. Menurut Paul Roehrig, Chief Strategy Officer dari Cognizant Digital Business soft skill seperti komunikasi, pemecahan masalah, kolaborasi, dan empati antar sesama manusia lebih berarti dibandingkan dengan teknologi canggih yang bisa dilakukan oleh robot.

Hal itu sejalan dengan kebutuhan soft skill untuk para calon pekerja yang ditemukan oleh Wall Street Journal. Calon pekerja tersebut dinilai oleh sebanyak 89% para manajer belum memiliki soft skill yang tidak dimiliki robot dan teknologi canggih. Sehingga budaya organisasi di manapun perlu memperkuat soft skill yang ada berbentuk kolaborasi, misalnya, atau membantu “orang-orang yang mirip robot” untuk mampu lebih cepat beradaptasi dan berinteraksi lebih banyak dengan orang lain serta keluar dari zona nyamannya.

Tak hanya diperkuat melalui budaya organisasi seperti di atas, nilai-nilai yang di anut oleh masing-masing organisasi atau perusahaan perlu menekankan soft skill lain, seperti kepemimpinan, rasa ingin tahu tinggi, dan pemikiran analitis. Menurut Paul Roehrig, kemampuan itu baiknya dilengkapi dengan kemampuan membangun hubungan kolaboratif vertikal-horizontal di tempat kerja, di atas keanekaragaman skill orang-orang yang menjadi bagian dalam sebuah organisasi (perusahaan).

Diversitas skill tersebut diambil dengan cara ekstrem pada salah satu perusahaan pengelola aset digital di Amerika, Wilden. Perusahaan tersebut mempekerjakan orang-orang dengan “keunikan” diri seperti mengalami Down Syndrome dan cerebral palsy karena orang-orang tersebut lebih mampu menyebarkan sikap positif di lingkungannya dan menunjukkan apresiasi terhadap detail. Orang-orang dengan social intelligence rendah, termasuk kurangnya etiket kerja secara umum dan kurang memberi respect untuk orang lain, masih membutuhkan mentor untuk meningkatkan kecerdasan sosialnya agar memiliki salah satu soft skill kepemimpinan yang tidak bisa digantikan oleh robot ini.






*Dikutip dari Fast Company.

  • view 79