Alasan Logis di Balik Pantangan Mistis Pendaki Gunung

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 24 Juli 2017
Alasan Logis di Balik Pantangan Mistis Pendaki Gunung

Indonesia sejak dulu memiliki keindahan alam yang tiada bandingannya, apalagi tempat-tempat dengan kedalaman laut tertentu serta ketinggian tertentu, seperti gunung. Keindahan 127 gunung berapi di Indonesia menarik puluhan ribu orang untuk singgah bermalam di banyak kawasan taman nasional dari ujung Indonesia yang satu ke ujung Indonesia yang lain. Namun, tak sedikit juga penghalang para pendaki untuk sampai di puncak-puncak gunung yang tersebar tersebut karena masing-masing lokasi memiliki cerita mistisnya sendiri. Berikut terdapat pantangan yang umumnya mampu menakuti sebagian orang lain yang belum pernah merasakan rasanya mendaki.

Tidak Boleh Buang Air Kecil dan Buang Air Besar Sembarangan

Hal ini sudah pasti tidak boleh dilakukan dimana pun kita berada. Selain karena alasan kesehatan lingkungan, misalnya ketika buang air di dekat sumber air yang dipakai warga akan membawa wabah penyakit bagi pengguna airnya, alasan lain adalah karena ada beberapa tanaman yang berbahaya ketika terhirup maupun kontak dengan kulit kita. Sudah pernah dengar belum?

Menurut Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, tumbuhan kemadu atau pulus (Laportea sinuarta), rarawean atau raweh, dan aren (Arenga pinnata) dapat menyebabkan gatal dan panas pada kulit jika bulu daunnya mengenai tubuh kita. Belum lagi ada hewan-hewan atau makhluk hidup unidentified lain di sekitar tempat buang hajat kita yang bisa berbahaya jika mengenai tubuh dan alat vital. Bisa dibayangkan tidak ketika semua itu mengenai area vital kita saat sedang asyik mendaki dan membayangkan romansa yang gunung tersebut? Yak, rusak bayang-bayang indah itu seperti perasaan saat ditinggal mantan menikah.

Perempuan Haid Tidak Boleh Mendaki

Perempuan yang mendaki ketika sedang haid dilarang keras di beberapa gunung. Alasannya katanya mitos makhluk halus yang senang darah siap menerkam perempuan-perempuan yang berani mendaki gunung ketika sedang haid. Hmmm, benarkah? Bukankah setiap manusia memiliki darah agar bisa hidup? Peluang itu tentu dimiliki juga oleh para lelaki perkasa pendaki gunung dan tidak logis jika hanya itu alasannya perempuan dilarang mendaki saat haid.

Tatkala untuk menghargai kesepakatan adat setempat, boleh jadi membatalkan pendakian adalah hal yang bijak. Tetapi jika tidak ada kesepakatan adat yang sudah turun temurun? Silakan tantang dirimu. Tetapi, jangan lupa mengingat peluang kondisi tubuhmu yang melemah ketika sedang haid, ya. Siapkan pencegahan terbaik agar tidak pusing-pusing bahkan pingsan ketika sedang mendaki karena kelelahan ditambah dengan kekurangan darah. Tak lupa juga hindari membuang pembalut agar kuman-kuman dari darah kotor yang keluar tidak mencemari lingkungan atau dimanfaatkan makhluk-makhluk iseng untuk mengganggu kita. Setuju?

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

 

  • view 73