Memahami Realitas Tersembunyi dari Gangguan Mental dan Spiritualitas

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 21 Juli 2017
Memahami Realitas Tersembunyi dari Gangguan Mental dan Spiritualitas

Seseorang yang menderita gangguan mental, seperti stress, depresi, hingga bipolar seringkali berpikir untuk melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Mereka mencari banyak pelampiasan agar masalah mereka bisa selesai. Bahkan ketika merasa tidak kuat menahan beban, cara-cara ekstrem seperti bunuh diri pun dilakukan tanpa pikir panjang. Hal itu sejak dulu terjadi pada banyak orang dari orang biasa hingga orang terkenal, sebut saja Vincent van Gogh, Kurt Cobain, dan yang terbaru, Chester Bennington.

Meski cara orang-orang tersebut menjemput kematian berbeda-beda, dugaan yang meluas di masyarakat ketika seseorang bunuh diri adalah karena seseorang tidak sanggup menghadapi kenyataan. Selain itu, kondisi lingkungan sekitar atau tuntutan pekerjaannya mendukung terjadinya kasus bunuh diri tersebut. Biasanya, orang-orang yang mengalami masalah pengangguran, setengah pengangguran (freelance), ketergantungan klien dalam pencarian setelah pertunjukan atau kontrak bagi artis, berpenghasilan rendah, maupun memegang cukup banyak pekerjaan.

Menurut Christine Moutier, Chief Medical Officer for the American Foundation for Suicide Prevention, orang-orang yang cenderung melakukan aksi bunuh diri tak hanya seorang pekerja seni atau orang terkenal maupun pekerja dengan karakteristik sejenis. Orang dengan kepribadian perfeksionis dan lingkungannya “turut mempersiapkan” akses untuk bunuh dirinya juga berpengaruh sehingga terjadi kasus yang sangat disayangkan itu. Kurt Cobain misalnya, walau meninggal karena menembakkan diri setelah mengonsumsi heroin, ia memiliki pistol di rumahnya dan ternyata fungsi pistol tersebut (sengaja) tak sengaja disalahgunakan.

Teruntuk kasus bunuh diri, selain karena karakteristik pekerjaan dan kepribadian orang-orang ternyata riset membuktikan kurangnya pemahaman spiritualitas mampu memperkuat dugaan terjadinya bunuh diri tersebut. Pemahaman seperti nilai-nilai ketuhanan yang penuh dengan perasaan, mempromosikan praktik untuk mengomunikasikan kasih sayang, kebaikan hati, kepuasan, dan penerimaan diri, menurut Joy Penman mampu mengurangi keinginan-keinginan tidak wajar yang berakhir pada kejadian bunuh diri. Aspek biopsikososial dari spiritualitas pun dapat mendukung bagaimana pemahaman dan kepercayaan dalam konteks spiritual mampu mempengaruhi kesehatan jiwa raga.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 48