Anak Ceria, Masyarakat Bahagia. Begini Cara Membuat Masyarakat Bahagia

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Motivasi
dipublikasikan 20 Juli 2017
Anak Ceria, Masyarakat Bahagia. Begini Cara Membuat Masyarakat Bahagia

Setiap masyarakat bahagia mungkin memiliki masa kecil yang tidak membahagiakan. Lebih mungkin lagi masyarakat yang tidak bahagia mengalami masa kecil tanpa arah, tanpa kesiapan menghadapi kedewasaan. Melihat banyak keluhan dari orang dewasa di waktu ia menjadi dewasa, ada temuan-temuan riset mengarah pada pendidikan ketika masih muda dan belia yang perlu dilakukan untuk mencegah masyarakat hidup tidak bahagia.

Expect Effort, Not Perfection

Selama ini orang tua mendidik anaknya menjadi perfectionist. Ketika anak-anak mampu memecahkan sebuah masalah atau mendapat peringkat pertama, ia dianggap cerdas. Namun, ada kecenderungan anak-anak itu jika disuruh memilih permainan puzzle untuk diselesaikan ia akan memilih puzzle yang lebih mudah karena ingin dianggap tetap cerdas. Olehnya anak-anak menjadi mudah cemas, memiliki tingkat depresi yang tinggi, dan gemar melakukan kekerasan kepada anak-anak lain.

Mungkinkah karena itu angka kasus bullying masih saja tinggi? Maka, menurut Eric Barker, sebaiknya memberikan pendidikan pada anak perlu membuat anak-anak ingin terus melewati proses belajarnya tanpa takut akan penilaian orang lain, yang belum tentu sesuai dengan dirinya sendiri. Ia pun perlu melewati tahapan bagaimana cara mengelola emosi dan membedakan mana emosi yang baik dan emosi berbentuk perilaku yang buruk. Termasuk perlu memahami pentingnya mendengarkan orang lain dari ucapan maupun gerak-gerik tubuh.

Disiplin Diri

Menurut Angela L. Duckworth dan Martin E.P Seligman, disiplin diri bagi anak-anak lebih membuat mereka mencapai kesuksesan dibanding dengan hanya IQ saja yang ditonjolkan. Anak-anak dengan disiplin diri baik mampu mengatasi selingan yang mendistraksi dirinya untuk mencapai kesuksesan. Biasanya, orang-orang menerima kegagalan dalam hidup mereka karena tidak mampu dalam menjalankan disiplin diri. Tantangan untuk mendisiplinkan diri  memang sulit, tapi tak sesulit membuat orang-orang dewasa bahagia secara alami tanpa perlu mengonsumsi hal-hal buruk.

Mengajari Optimisme

Orang-orang di luar sana selalu memiliki masalah, ya, ada saja hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau. Lalu, kejadian itu seolah menjadi justifikasi bahwa kita boleh menatap orang dengan membawa muka masam, berduka lara. Orang yang melihatnya pun ikut berduka, lalu kesedihan merajalela. Hmm, energi negatif ini tidak sendirian, lho. Ia dikelilingi juga oleh energi positif. Ketika anak-anak dibiasakan untuk melihat dari sisi positif dengan energi positif di dalamnya, menurut Christine Carter, mereka akan lebih sukses di sekolah, pekerjaan, bahkan atletik; hidupnya juga lebih sehat dan kualitas umur hidupnya lebih lama; memiliki kepuasan pada pernikahannya; dan lebih sedikit mengalami depresi dan kecemasan.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 210