Dua Sisi Mata Koin Hedonisme dan Bahagia, Benarkah Akan Selamanya?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Motivasi
dipublikasikan 20 Juli 2017
Dua Sisi Mata Koin Hedonisme dan Bahagia, Benarkah Akan Selamanya?

Hidup memiliki konsekuensi adil atas segala hal yang kita percaya. Misalnya, percaya bahwa sesuatu baik untuk dilakukan, percaya bahwa sesuatu baik untuk terus dilakukan. Konsekuensi logis dari apa yang terjadi terus menerus juga adil, akan baik atau buruk nantinya. Begitu pun hedonisme, yang bukan pemain baru di kancah isu-isu sosial.

Banyak argumen beredar seputar isu hedonisme mungkin lebih banyak memberatkan hedonisme dan pemujanya sebagai tersangka bagi polisi moral. Pengusaha muda yang mati bunuh diri karena dugaan terlilit hutang, kasus penyalahgunaan obat terlarang pada orang-orang hedonis – mungkin di headline berita banyak artis-artis, sebagian dari kita setuju bahwa dunia penuh kesenangan yang digeluti seniman layar kaca televisi maupun layar kaca gadget berada sejalan dengan penganut jalan hidup hedonis ini.

Hedonisme dianggap sebagai cara menjalani hidup yang mengambil sudut pandang bahwa hidupmu baik jika kamu senang. Dari sisi psikologis, hedonisme memasuki pikiran manusia dan menjadi alasan seseorang melakukan perilakunya selama ia hidup. Sampai titik ini, orang-orang hedonis terlihat tidak adil pada dirinya sendiri mengingat selalu ada baik-buruk dan enak-eneg ketika kita hidup di dunia.

Orang-orang pencandu gula, kopi, alkohol, rokok, narkoba, hingga seks bebas misalnya, mereka mencari apa yang mereka sukai melalui kesenangan sensori. Namun, terbawa arus hedonisme terlalu jauh jika ia kehilangan kuasa atas apa yang ia mau. Tak hanya dari perilaku dalam diri, orang-orang hedonis bisa saja menggunakan apa yang ada di alam untuk kebutuhan pribadinya sampai alam rusak. Acceptance dari dirinya sendiri ketika mengejar kesenangan melalui kegiatan konsumtif yang sudah mulai dianggap normal akhirnya dilindungi dengan banyak alasan tak logis lain.

Menurut Ruut Veenhoven, orang-orang hedonis hidupnya cenderung akan berakhir tidak bahagia karena kebahagiaan yang mereka rasakan akan redup seiring berjalannya waktu. Benarkah begitu? Sensor dalam dirinya sudah tak seperti dulu lagi, beban yang ditanggung dirinya sudah lebih besar daripada kenikmatan awal, bagian dari tubuhnya sudah tidak normal dalam konteks yang sama sekali tak keren. Sehingga, mereka membutuhkan stimulus yang lebih besar untuk di sensor melalui indera perasa, penglihatan, dan indera lain, bahkan melalui self-destruction. Adakah yang lebih menyakitkan dari menyakiti diri sendiri?

Tak ada semua yang buruk selalu buruk, begitu juga semua yang baik tak ada yang selalu baik. Memang tidak dipungkiri, akibat dari konsekuensi logis manusia hedonis sangat buruk, tapi di titik tertentu masih debatable. Sangat dekat dengan pencarian kesenangan, berarti hedonisme sangat dekat pula dengan kebahagiaan. Kesenangan yang kita semua dapatkan melalui cara-cara manusiawi, tidak merusak, mampu menoleransi tekanan hidup seseorang dengan mengendalikan situasi melalui emotion focussed coping atau pengendalian diri terhadap stress melalui pengelolaan emosi untuk hidup yang lebih bahagia. Pada akhirnya, hedonisme tergantung dari masing-masing diri penganutnya, bisa diarahkan ke arah yang lebih baik atau menjadi diri yang tidak terkendali.
 
 



 
*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 127