Benarkah Narkoba Mampu Melepas Lara? Padahal, Bahagia dan ‘Nge-Fly’ Itu Beda

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 19 Juli 2017
Benarkah Narkoba Mampu Melepas Lara? Padahal, Bahagia dan ‘Nge-Fly’ Itu Beda

Hampir semua orang tahu, dalam dunia medis, cara cepat untuk menghilangkan rasa sakit tubuh tak tertahankan adalah dengan obat. Namun, kita semua juga tahu, ada perihal dalam konteks tertentu yang sangat ilmiah, misalnya satu dosis obat untuk menunda satu kesakitan tetapi tidak bisa menahan kesakitan yang lain. Sebenarnya kita pun tak bisa benar-benar tidak merasa sakit karena ada kadar obat tertentu dengan batas aman agar diri kita selamat dari cabutan nyawa malaikat maut.  

Ketika berbicara mengatasi sakit, hal itu sangat dekat dengan mendapatkan kebahagiaan. Menurut Kelly Surtees, kebahagiaan adalah spektrum emosi dengan intensitas tertentu dalam bentuk cara berpikir. Kebahagiaan didapat bukan dengan obat anti-depresan maupun obat-obatan lain pemicu kebahagiaan. Tetapi dengan berbicara, konseling istilah kerennya, dan mencari makna atas apa yang telah terjadi. Sejalan dengan itu, Martin Seligman berpendapat sama dalam artikelnya, mengejar kesenangan tidak selalu berakhir pada kepuasan hidup, tetapi kesenangan dan kepuasan dalam hidup dapat dicapai dengan mengejar hidup yang bermakna, meaningful and good life.

Menurut Brian Earp, munculnya “kesenangan sejati”, seperti ungkapan para pecandu setelah menggunakan obat-obat penenang yang membangkitkan kesenangan serta membuang lara, dan kebahagiaan yang bermakna memiliki konsep berbeda. Meaningfulness bagi seseorang amat penting bagi seluruh kesejahteraan untuk hidup yang lebih baik. Misalnya, kehadiran teman hidup atau kelahiran anak akan lebih menghasilkan kebahagiaan yang lebih tinggi, menurut Brian Earp, daripada mendapatkan kesenangan dari penggunaan obat-obatan. Alternatif lainnya yang ampuh, menurut Black Dog Institute, adalah dengan melakukan pelarian, literally, olahraga lari,  terapi perilaku kognitif dan psikoterapi lain, jugaterapi interpersonal.

Menjalani hal-hal membosankan, menyebalkan, maupun mengatasi trauma memang sulit dan nyeni. Butuh cara khusus agar seni itu bisa dinikmati bagaimanapun kita tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, banyak hal dalam hidup ini membuat kita belajar bahwa kesabaran lebih sering membawa buah manis daripada sebuah shortcut untuk kebahagiaan. Selain itu, bisakah dipikir kembali, seberapa banyak kontrol diri yang kita miliki? Benarkah kita bisa mengendalikan adiksi? Menurut Alva Noe, profesor filsafat dari University of California, Berkeley, membedakan being happy dan being high atau nge-fly setelah mengonsumsi obat-obatan seperti membedakan bahwa kita sedang saling mencintai dan berkhayal bahwa kita sedang jatuh cinta. Bahagianya palsu, sob.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 65