Alasan di Balik Sulitnya Mempengaruhi dan Mengubah Pendapat Seseorang

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 18 Juli 2017
Alasan di Balik Sulitnya Mempengaruhi dan Mengubah Pendapat Seseorang

 

Kamu percaya nggak, sih, orang-orang yang kepalanya lebih keras dari batu karang itu ternyata bisa kita lumatkan dengan cara yang tak disangka-sangka. Hal itu terjadi karena, menurut Elizabeth Svoboda, seringkali pendapat seseorang ada di pikirannya setelah ada campuran emosi dan pengaruh kelompok afiliasi, bukan fakta tentang dirinya sendiri. Simak fakta-faktanya seperti yang dilansir dari Greater Good Magazine berikut.

Pendapat orang lain amat dimungkinkan berasal dari kepercayaan yang mengakar kuat dalam dirinya. Fokus atas berbagai macam isu dan sebagainya. Tapi, menurut Elizabeth Svoboda, kecenderungan otak untuk tetap mengikuti “alur pikirnya” mungkin memainkan peran lebih besar. Seperti penelitian psikologis yang menunjukkan bahwa begitu pikiran kita dibuat berada dalam masalah penting, mengubah kondisi tersebut akan sama sulitnya seperti menghentikan kereta yang meluncur dengan kecepatan penuh, bahkan ketika Superman datang menghalangi.

Seseorang sulit merubah apa yang ada di pikirannya karena kebanyakan orang lebih suka menolak atau mengecilkan informasi baru yang tidak nyaman daripada membentuk kembali pandangan dunia mereka dan mengakomodasinya. Perspektif itu dibuktikan dalam sebuah penelitian klasik tentang seseorang yang melihat rangkaian gadget rumahan dan menilai keinginan mereka. Kelompok tersebut diberi kesempatan untuk memilih sesuai dengan keinginan mereka.

Setelah mereka membuat keputusan tentang yang mana yang akan dibawa pulang sebagai hadiah (katakanlah, lampu warna-warni yang unik), pendapat mereka tentang barang yang mereka pilih cenderung naik dari sesuatu yang ia miliki. Lalu, pendapat tentang barang yang ditinggalkan menjadi buruk. Kondisi tersebut berasal dari dalam dirinya sendiri, tanpa pengaruh dari luar selain dari ingatan masing-masing orang yang mendapatkan kesempatan memilih hadiah.

Tanpa kita sadari, pandangan yang muncul dari penelitian di atas sebetulnya menghalangi persepsi asli otak kita, lho. Artinya, bahkan ketika kita mempelajari informasi baru yang membuka mata, kita mungkin tidak merasa cukup khawatir untuk mempertimbangkan kembali pandangan kita sebelumnya. Hal itu terjadi karena ketika keraguan merayap masuk, setiap orang dapat memiliki efek paradoks, membuatnya menggali lebih jauh lagi apa yang ada di pikirannya. Sehingga, peluang untuk “berubah pikiran” dari lingkungan yang dimodifikasi untuk membentuk persepsi baru maupun tetap pada keaslian diri berdasarkan kinerja otak seseorang masih dimungkinkan terjadi.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 72