Benarkah Manusia Selalu Sulit Mengakui Kesalahan? Oh, Ternyata Ini Alasannya

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 14 Juli 2017
Benarkah Manusia Selalu Sulit Mengakui Kesalahan? Oh, Ternyata Ini Alasannya

Manusia senang menilai salah atau tidaknya seseorang, mungkin sebagian dijadikan bahan evaluasi. Tetapi, hampir tidak ada manusia yang ingin disalahkan atau pun mengakui kesalahan. Seperti lecet kecil pada body atau bumper kendaraan kita, kebanyakan dari kita pasti menganggapnya itu kesalahan orang lain yang menggoreskan kendaraannya pada kendaraan kita. Sulit rasanya untuk mengira itu kesalahan kita sendiri. Padahal, bisa saja lecet itu karena kita memaksakan kendaraan kita melewati gang sempit dengan pohon berbatang rendah. Yah, namun katanya, kalau semua orang mau mengakui kesalahannya, penjara penuh, ya? Hihi.

Menurut Leon Festinger, ada teori psikologi yang melandasi sikap perlindungan diri kita ketika berbuat salah dan mengapa kita sulit sekali mengakui kesalahan. Pernah dengar cognitive dissonance? Teori tersebut dirancang oleh Leon Festinger pada tahun 1950an. Teori disonansi kognitif tersebut kita alami ketika ada dua pemikiran, keyakinan, pendapat, atau sikap yang kontradiktif. Persis seperti denial saat mengakui lecet-lecet pada kendaraan yang kita pakai.

Sebetulnya, disonansi kognitif terjadi ketika selama ini kita merasa memiliki konsep diri yang baik, seperti pintar, cerdas, ramah, serta yakin hal tersebut benar adanya. Jika suatu waktu kita melakukan hal yang tidak baik dan berlawanan dengan konsep diri kita yang baik di awal tadi, diri kita merasa terancam dan mengarahkan ancaman itu pada orang lain seolah-olah dia yang sangat bersalah.

Menurut Carol Tavris, penulis buku Mistakes Were Made (But Not Me), salah satu siasat untuk mengurangi sikap buruk kita tersebut adalah dengan menerima kenyataan bahwa kesalahan bukan hanya milik pelakunya, waspadalah~ waspadalah~, bukan. Kesalahan milik seseorang yang berpotensi salah, which is, semua berpotensi melakukan kesalahan. Ketika kita menolak untuk menerima kenyataan bahwa tidak selamanya manusia selalu berada di pihak yang benar, maka konsekuensi akan dampak cognitive dissonance bisa berkurang.

Penelitian yang diterbitkan oleh European Journal of Social Psychology menemukan bahwa orang-orang yang menolak untuk meminta maaf setelah sebuah kesalahan memiliki harga diri yang lebih dan merasa lebih terkendali dan berkuasa daripada mereka yang tidak menolaknya. Menurut para ahli, ketika seseorang menolak untuk mengakui kesalahannya, ia juga cenderung kurang terbuka terhadap kritik yang membangun dan dapat membantu mengasah ketrampilan, memperbaiki kebiasaan buruk serta memperbaiki diri terhadap semua hal. Jangan ragu, ya, untuk mengakui bahwa kita juga memiliki ketidaksempurnaan.

 

 

 

*Dikutip dari NY Times.

  • view 185