Manfaat Seni Berpakaian, dari Mark Zuckerberg sampai Profesi Impian

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 13 Juli 2017
Manfaat Seni Berpakaian, dari Mark Zuckerberg sampai Profesi Impian

Kita semua tahu Mark Zuckerberg, raja yang melahirkan Facebook. Hanya dia satu-satunya raja yang melahirkan, eh, tidak juga, sih. Tapi, dia satu-satunya miliarder yang memiliki tabungan dan aset berlimpah tetapi tetap berpakaian sederhana dengan kaus abu-abu polosnya. Walaupun ada juga jutawan lain yang memakai identical clothes setiap hari, seperti Steve Jobs -itupun warna dan jenis kausnya berbeda berupa turtleneck hitam dan celana jeans.

Sudah lama beredar alasan mengapa Mark hanya menggunakan kaus abu-abu sebagai pakaian sehari-harinya, kecuali kalau bertemu orang-orang penting ia berpakaian berbeda. Ia tak ingin membuang waktunya untuk berkelit memilih pakaian indah yang tak benar-benar penting dibandingkan dengan kebutuhan miliaran orang lain pengguna platform facebooknya. Thom Browne, seorang fashion designer, mengatakan hal yang sama,” The whole idea of uniformity and adopting a uniform for yourself, it keeps things very simple”. Semua seni berpakaian berfungsi praktis untuk efisiensi agar tak banyak waktu, tenaga, dan uang yang terbuang untuk mix and match pakaian.

Menurut Adam D. Galinsky, profesor dari Columbia Business School, tak hanya mendapatkan efisiensi dalam berbagai aspek kehidupan, rasa percaya diri dan bagaimana kita mempresentasikan diri kita menjadi berbeda ketika kita menggunakan pakaian tertentu yang menurut kita “pas”. Menurutnya, pakaian yang kita pakai berpengaruh pada tubuh dan otak kita sehingga menempatkan pemakainya ke dalam keadaan psikologis yang berbeda-beda. Alasan mengapa berpakaian itu-itu saja pun bisa mempengaruhi psikologis kita, lho.

Persepsi psikologis kita ketika berpakaian disebut dalam dunia psikologi sebagai Enclothed Cognition. Enclothed Cognition dimaksudkan dalam kondisi sistematis diri kita yang terpengaruh karena pakaian yang kita pakai. Kesempatan besar seperti peningkatan rasa percaya diri, fokus, dan produktivitas bisa berpengaruh dari pakaian yang kita pakai selain dari keuntungan efisiensi seperti yang terjadi pada Mark Zuckerberg atau Steve Jobs.

Hal ini terbukti melalui penelitian Adam D. Galinsky dan Hajo Adam, ketika ada kelompok orang diberi mantel dan diberi tahu bahwa itu adalah mantel dokter atau baju seorang seniman, yang sama-sama berwarna putih. Peneliti menemukan bahwa subjek lebih memperhatikan tugas tertentu saat mereka mengira mengenakan mantel dokter. Namun, tidak ada perubahan kinerja saat mereka menganggap itu sebagai pakaian seniman.

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 162