Kritik Kanan Kiri, Kapan Harus Berhenti dan Memberhentikan?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Juli 2017
Kritik Kanan Kiri, Kapan Harus Berhenti dan Memberhentikan?

Sering kita semua mendengar cerita dari orang lain tentang betapa tidak sempurnanya diri kita. Mereka mungkin berani memberikan kritik dengan banyak cara, dari yang paling menyenangkan hingga paling menjatuhkan. Menurut Mark Thomas, dalam The Guardian, sebuah kritik dari orang lain adalah pendorong kesuksesan terbaik. Ibaratnya pada sebuah toko ada sebuah kotak saran yang terisi banyak masukan, atau banyak sampah-dalam artian yang sebenarnya karena banyak orang-orang iseng, kritikan langsung yang kita terima juga merupakan sebuah saran dari orang lain untuk diri kita.

Tak memungkiri bahwa sebuah kritikan bisa memperbaiki banyak hal pada seseorang, menyadarkan bagian dalam diri yang tak bisa tersadarkan sebelumnya, kritik pedas dari orang lain juga bisa hanya membuat hidup kita terlempar mundur jauh dari pijakan saat ini. Namun, ada banyak cara untuk menganggapi sebuah kritik. Menurut Mark Thomas, pertama-tama kita perlu menyaring perkataan dari orang lain yang benar-benar mampu membangun diri kita lebih baik lagi itu seperti apa. Bedakan mana kritikan membangun dan apa saja kritikan yang menyakiti hati kita tetapi sebenarnya baik untuk pengembangan diri, maupun produk yang kita hasilkan -misalnya- ketika kita berbisnis.

Jika sudah sulit membedakan, ingat kembali, apakah setelah kita berbuat sesuatu, entah bertindak, atau membuat sebuah produk, orang lain pernah mengucapkan kata-kata “aku nggak suka itu”, “ini kurang bagus, kurang kuat isinya”, atau “kamu nggak ngerti”.  Menurut Tanner Christensen, biasanya umpan balik pada orang-orang dengan jenis kritikan tak sehat hanya berhenti sampai disitu, tiga kalimat tak jelas itu. Mereka meninggalkan kita dengan pertanyaan menggunung tanpa solusi. Sebaiknya umpan balik seperti itu diabaikan. Sebuah kritikan bukan tempat pemberhentian terakhir, Inspirator. Tetapi, apa yang kita bawa selama ini tetap diperbaiki.

Jika perihal tawaran orang lain sebagai feedback yang “katanya” adalah saran ternyata sebuah pernyataan tunggal dengan jalan buntu, kemungkinan besar ia tidak benar-benar mengerti apa yang ingin ia katakan kepada kita. Tentunya itu bukan kritik yang membangun, apalagi jika hanya membuat kita tersinggung dan bersedih. Tanner Christensen, seorang penulis, product designer, dan developer menyarankan kita untuk bisa menentukan sikap jika diberikan semua masukan, entah itu sudah dikategorikan sebagai masukan yang membangun atau tidak membangun.
 
“A good rule of thumb is: if a problem seems simple to you, you probably don’t fully understand it. You certainly might, but you probably don’t.” - Mike Davidson
 
 
 
 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 38