Kenali Konflik Kepentingan, Kenali juga Masa Depan Bisnismu

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 10 Juli 2017
Kenali Konflik Kepentingan, Kenali juga Masa Depan Bisnismu

Kita semua tahu atau pernah dengar yin dan yang. Seperti pada banyak aspek hidup lainnya, faham taoisme tentang keseimbangan tersebut berlaku juga di berbagai aspek wirausaha dan segala lika-likunya. Dinamika dunia bisnis yang sejalan dengan yin dan yang membuat kita sebagai pebisnis sejati paham, tak ada istilah “pebisnis” yang menempel pada diri kita tanpa ada orang lain yang dilayani, diharapkan membeli, bahkan di edukasi. Keseimbangan. Tak ada penjual tanpa pembeli, juga, tak ada yang berpengaruh jika tak ada juga yang dipengaruhi. Begitupun cara mengatasi beberapa konflik kepentingan yang sering terjadi di dunia bisnis, keseimbangan.

Sebelum memulai lebih jauh tentang cara mengatasi konflik kepentingan, mari kita intip definisi secara umum dari konflik kepentingan (conflict of interest). Menurut Jean Murray, konflik kepentingan adalah situasi di mana seseorang memiliki kepentingan atau loyalitas yang bersaing. Saat memasuki pasar bisnis, konflik kepentingan bisa selalu terjadi dalam berbagai situasi. Misalnya, antara perusahaan dan pemerintah, perusahaan dan masyarakat, hingga perusahaan dan pekerjanya. Umumnya, ada tiga jenis konflik kepentingan, yaitu konflik yang sedang terjadi, konflik yang berpotensi untuk terjadi, dan konflik yang dipersepsikan terjadi.

Menurut Integrity Coordinating Group, Australia, penyelesaian konflik kepentingan yang ada dimulai dari mengidentifikasi permasalahan dilihat dari subjeknya, dengan siapa konflik tersebut muncul. Lalu, bisa dikaitkan dengan tiga jenis konflik kepentingan tadi sebelum bisa dicarikan solusinya. Setelah bisa menilai dengan siapa dan jenis konflik apa yang cocok dengan apa yang dialami, memperparah konflik yang ada maupun membatasi terjadinya konflik sebagai pencegahan sebelum konflik dimulai bisa menjadi satu tindakan signifikan untuk meredam konflik kepentingan, lho. Untuk itu, strategi paling efektif dan efisien selalu dibutuhkan ketika memasuki dinamika bisnis.

Suasana yang terjadi saat menghadapi konflik kepentingan bisa sangat keruh dan seperti bola salju, makin lama makin membesar tak terkendali. Ketika pihak-pihak yang berseteru tak bisa meredam sendiri konflik di depan mata, misalnya karena kepentingan akan satu hal dan sama-sama mempertaruhkan hidup mati keduanya. Maka, pihak ketiga yang independen perlu dilibatkan untuk berpartisipasi dalam mengawasi atau meninjau integritas proses pengambilan keputusan. Sulitnya, independensi pun terkadang tak bisa dipercaya sehingga insting dan keberanian perlu dipertaruhkan.

Pembaruan strategi, mempertimbangkan matang-matang sumber daya yang ada, akan diperlukan ketika muncul konflik yang tak berhenti bersamaan dengan buramnya independensi. Terkadang, strategi apapun halal jika konteksnya tepat AKA harus betul-betul dilakukan. Namun, idealnya, seseorang perlu melepaskan kepentingan pihaknya sebagai salah satu strategi yang bisa dilakukan selain negosiasi yang berjalan sepanjang konflik terjadi. Hal itu dilakukan agar masa depan bisnis yang kita upayakan bisa lebih kuat pondasinya, sob. Gedung pencakar langit tanpa pondasi yang kuat hanya akan runtuh dan rata dengan tanah, bukan?

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 52