Percayakah? 4 Tipe Kepribadian Ini Berpengaruh pada Kebahagian, Menurut Riset

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 07 Juli 2017
Percayakah? 4 Tipe Kepribadian Ini Berpengaruh pada Kebahagian, Menurut Riset

Bahagia sudah didefinisikan sejak berabad-abad lalu dengan ratusan teori yang melayang-layang di dunia digital, beberapa sudah dimakan rayap tetapi esensinya masih dipahami hingga saat ini. Filsuf Roma, Marcus Tullius Cicero, misalnya. Ia memiliki kutipan menarik, “There is no fool who is happy, and no wise man who is not”. Bahagia dipercaya menjadi sebuah subjektivitas yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, seperti yang disimpulkan oleh Thomas E. Ford, Shaun K. Lappi, dan Christopher J. Holden tentang keterkaitan antara kebahagiaan dan kepribadian.

Kebahagiaan bukan hanya dari umur, ras, budaya, atau uang (nurture), tetapi juga dari apa yang manusia miliki sejak lahir, yaitu kepribadiannya (nature). Menurut David G. Myers dan Ed Diener, ada empat tipe kepribadian seseorang yang mempengaruhi abstraksi kebahagiaan, seperti ekstraversi, pusat kendali internal (internal locus of control), harga diri (self-esteem), dan optimisme.

Ekstraversi

Ekstraversi disebut juga oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai tipe kepribadian seseorang yang minatnya lebih mengarah ke alam luar dan fenomena sosial daripada terhadap diri dan pengalamannya sendiri. Tersebab minat terhadap kemampuan sosial itu, secara otomatis orang-orang dengan tipe kepribadian ini memiliki banyak dukungan sosial pula. Menurut banyak peneliti, seperti yang dikutip oleh Thomas E. Ford, dkk, tipe kepribadian ini terkait dengan kebahagiaan karena orang-orang dengan kepribadian tersebut cenderung memiliki kemampuan sosial lebih baik dan mengalami kejadian positif lebih banyak.

Internal Locus of Control

Menurut Julian B. Rotter, locus of control membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir tentang penguatan-penguatan apa yang bisa mengakibatkan sebuah perilaku terjadi di bawah kendali dirinya (internal control). Berbeda dengan internal control, orang yang memiliki external control menerima dirinya berperilaku dengan ditentukan oleh tekanan luar selain dirinya, seperti keberuntungan dan ketergantungan dengan orang lain. Bisa dibayangkan, bukan, mengapa orang-orang dengan external control tidak lebih bahagia dengan orang yang memiliki internal control?

Self-esteem

Self-esteem, menurut Jonathon D. Brown dan Margaret A. Marshall, merupakan bentuk evaluatif diri kita tentang seberapa bangga kita terhadap diri sendiri. Mudahnya, self-esteem adalah harga diri kita. Banyak peneliti percaya bahwa cara kita mengelola harga diri berpengaruh terhadap rasa akan kebahagiaan dalam diri. Contohnya, ketika kita mengalami kegagalan, self-esteem kita tinggi jika kita tetap berpikir positif dan selalu bersyukur tentang apa yang terjadi adalah baik. Ketika memiliki tipe kepribadian ini, kita pasti selalu bahagia, bukan?

Optimisme

Optimisme adalah suatu bentuk pemikiran positif yang mencakup keyakinan bahwa kita bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri. Termasuk pemikiran bahwa hal-hal baik akan terus menghampiri, dibandingkan dengan proporsi hal buruk yang akan terjadi. Orang dengan tipe kepribadian optimis ini, menurut Richard E. Lucas, Ed Diener, dan Eunkook Suh, lebih puas serta bahagia dalam hidup karena ia bisa membuat strategi penyelesaian masalah yang lebih baik. Ibarat singa-singa lapar, ia melahap tantangan di depan mata dengan bahagia. Apakah kamu memiliki empat tipe kepribadian di atas?

 

 

 *Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 168