Ternyata, Selama Ini Kita Salah Belajar Tentang Kesuksesan! Kok Bisa? (Part II)

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 06 Juli 2017
Ternyata, Selama Ini Kita Salah Belajar Tentang Kesuksesan! Kok Bisa? (Part II)

Siapapun di dunia ini yang berhasil lahir sampai bisa menyadari arti kehidupan, pasti orang yang diberi banyak nikmat oleh Tuhan. Terutama orang-orang yang sempat mendengarkan nasihat dari leluhur anak-anak muda masa kini. Namun, ada beberapa hal sudah terpatri di pikiran kita, yang ternyata membuahkan efek samping tidak sepadan karena petuah tersebut tidak utuh diterima oleh perubahan zaman.

Stay Busy

Orang-orang milenial selalu menyibukkan diri, atau hanya disibukkan dengan perihal yang sebenarnya tidak berarti apa-apa untuk tujuan hidup. Kalau sudah begitu, bukankah lebih nikmat sekalian saja kita bersenang-senang yang berfaedah? Tidak melakukan apa-apa lalu kita senang pun memiliki faedah, lho. Karena selanjutnya kita bisa memaksimalkan lagi kekuatan untuk melalui uptime dan selalu menyibukkan diri membuat kita selalu fokus. Padahal saat sedang tidak fokus (ketika kita beristirahat), kita sering menemukan a-ha! moment, kan? Saat berada di kamar mandi, misalnya.

Maksimalkan Kekuatan

Loooh? Kok memaksimalkan kekuatan juga berdampak buruk? Menurut Emma Seppälä, memaksimalkan kekuatan dalam konteks ini adalah saat kita berusaha maksimal dan perfeksionis menghindari kegagalan. Masalahnya setelah kita memaksimalkan kekuatan, selalu ada ketakutan untuk gagal. Padahal kegagalan membuat kita belajar lebih jauh dari teman-teman yang sudah lebih cepat sukses. Sehingga, peluang kesuksesan kita lebih besar dibandingkan orang lain yang mencapai garis finish lebih dulu.

Ketahui Kekurangan Kita, Jangan Lemah

Memperbaiki kekurangan sembari menggapai kesuksesan kadang kita lakukan dengan melakukan otokritik terhadap diri sendiri. Saat itu juga, karena emosi yang menggunung akibat suatu kegagalan tertentu kita menjadi orang paling jahat pada diri sendiri. Menurut Emma Seppälä, hal itu bukan sebuah otokritik, tapi bentuk sabotase diri yang membuat kita tetap fokus hanya pada apa yang salah dengan diri sendiri. Hal itu menurunkan kepercayaan pada diri dan akhirnya kita menyerah lebih cepat. Perlakukan diri sendiri dengan baik, sob. Kegagalan karena kekurangan kita pribadi akan lebih berarti jika kita bisa menyayangi diri sendiri. Berani berproses!

Dunia Ini Keras, Jadilah yang Terbaik dengan Mengalahkan yang Lain

People-eat-people. Teman makan teman boleh terjadi di dunia yang sebenarnya. Hal itu bermula dari ajaran-ajaran masa lalu bahwa yang terbaik hanya satu orang, pemenangnya, sisanya bisa dibilang sampah. Tidak berguna. Dogma yang merembet dari satu kalimat pembunuh bisa membuat generasi terdepan melakukan hal-hal buruk. Setelah merasa superior, si inferior bebas diintimidasi. Heloooow, gengs, hari gini masih berpikiran seperti itu? Semua orang perlu dibesarkan dengan ajaran kasih sayang serta welas asih. Setelah itu, kesuksesan yang sebenarnya akan lebih indah dan terasa tepat. Kemenangan hasil curang juga kosong melompong rasanya, kan?

 

 

*Dikutip dari Quartz.

Dilihat 30