Kenapa Pengusaha yang Tidak Tamat Sekolah Lebih Sukses Berbisnis? Ini Alasannya

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 04 Juli 2017
Kenapa Pengusaha yang Tidak Tamat Sekolah Lebih Sukses Berbisnis? Ini Alasannya

Kamu pasti pernah dengar Ralph Lauren, Steven Spielberg, Michael Dell, atau Bob Sadino dan Susi Pudjiastuti? Mereka adalah orang-orang yang dinyatakan sukses berbisnis di bidangnya masing-masing, sob. Kamu bisa tebak tidak, apakah hanya gelar pendidikan tinggi yang menyebabkan mereka sukses? Mereka bisa dengan yakin bilang, “bukan itu”. Kebanyakan orang seperti mereka tidak menuntaskan pendidikannya sampai tamat, lho, karena sibuk berbisnis. Mereka memilih fokus pada minatnya, atau terpaksa meninggalkan bangku sekolah, dan menghindari arus jutaan orang lain yang berkesempatan mengenyam bangku pendidikan.

Perjalanan panjang orang-orang sukses itu bukan karena rasa malas lalu meninggalkan bangku pendidikannya begitu saja. Walaupun dalam konteks yang berbeda rasa malas itu bisa menyelamatkan diri dari marabahaya dan malapetaka, mereka adalah orang-orang yang selalu semangat menjalani hidupnya meski tembok besar dari segala penjuru menghimpit mereka. Selain karena tekanan kehidupan yang membuat mereka berkembang, ada lima alasan mengapa mereka bertahan dari badai hidupnya.

Mereka Memiliki Kebutuhan untuk Berpikir Ot of The Box

Mereka tidak berhasil sebagai pengusaha dengan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang lain, sob. Selagi orang lain fokus pada hobi yang hanya menyenangkan tetapi tidak menguntungkan atau mendapatkan side job di tempat makanan cepat saji, mereka memilih untuk mengembangkan minat menjadi keuntungan, menjual perangkat elektronik atau ikan, misalnya.

Banyak tempat pendidikan yang mengharapkan semua siswa mengikuti kurikulum yang sama. Pendekatan ini menyisakan sedikit ruang bagi mereka yang memiliki pola pikir wirausaha, yakni melenturkan otot kreatif mereka dan mencoba hal baru. Sehingga, pebisnis mampu membawakan orang lain (konsumen) solusi untuk masalah yang tidak dapat diperbaiki. Hal itu jauh lebih memuaskan bagi pengusaha daripada mengerjakan topik yang tidak akan pernah mereka gunakan lagi selepas lulus sekolah.

Mereka Menghargai Independensi Dirinya

Bagi pebisnis, sekolah formal berbicara tentang mematuhi apa yang orang lain katakan untuk dilakukan lakukan, mengerjakan proyek, makalah, ujian, dan banyak hal. Kewirausahaan membutuhkan banyak pemikiran dan tindakan independen, yang akan dibatasi bila kita memiliki seorang guru yang menunggu kita untuk menyerahkan tugas-yang sebetulnya tidak pernah kita inginkan. Akibatnya, pebisnis mungkin merasa kebebasan mereka terhambat di lingkungan sekolah.

Mereka Menyukai Pendidikan, Bukan Institusinya

Para pengusaha yang mendulang sukses luar biasa menghargai pengalaman melalui spekulasi dan mengambil risiko. Mereka ingin keluar dan membangun pengetahuan mereka melalui tindakan, tak hanya melalui bacaan text book. Bagi mereka, pembelajaran tentang wirausaha lebih banyak didapatkan melalui pengalaman daripada ilmu umum yang diajarkan ruang-ruang kelas. Namun, mereka berpendapat bahwa ada banyak cara untuk belajar di luar sistem sekolah tradisional, terutama bagi kepentingan bisnisnya, yaitu melalui podcast, buku audio, e-book, kursus online, dan lainnya.

Mereka Tahu Kesuksesan Lebih dari Sekedar Mendapatkan Nilai A

Sebagai pengusaha, mereka selalu diingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dengan jumlah uang yang dimiliki oleh bisnisnya. Konsep yang sama dapat diterapkan pada nilai. Terlalu banyak orang yang mematuhi konsep kesuksesan dari seberapa besar atau seberapa banyak hasil yang didapatnya, daripada memanfaatkan ilmu dan pengalaman yang didapat untuk kepentingan jangka panjang. Hal itu dikarenakan orang-orang bisa saja memalsukan jalan mereka dengan baik untuk nilai sempurna, padahal hanya untuk satu lembar laporan hasil belajar yang tidak bisa memberi bukti nyata saja.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

 

  • view 214