Perempuan & Diskriminasi: Jadi Pekerja, tapi Tetap Dianggapkah Sebagai Manusia?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 Juli 2017
Perempuan & Diskriminasi: Jadi Pekerja, tapi Tetap Dianggapkah Sebagai Manusia?

Diskriminasi, pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara, terjadi tidak hanya pada cerita-cerita yang didongengkan oleh orang tua kita dahulu tentang konflik pembedaan warna kulit- apartheid. Parahnya diskriminasi membuat seseorang merasa dirinya tidak dianggap, tidak mampu berkontribusi, terpinggirkan, hingga merasakan percobaan pembunuhan. Di dunia kerja, menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), diskriminasi pun masih terjadi dalam 20 tahun terakhir ini, lho. Utamanya diskriminasi tersebut terjadi pada perempuan dengan beraneka bentuk.

Tidak dipekerjakan hanya karena seorang calon pekerja adalah perempuan, peluang promosi yang minim, gaji yang lebih rendah dibandingkan laki-laki, serta keterbatasan untuk mendapat pelatihan menjadi macam-macam bentuk diskriminasi perempuan di tempat kerja. Dunia kerja sebagai sektor publik yang nyata perbedaannya dengan sektor domestik dalam rumah tangga, tempat “biasanya” perempuan berada, juga masih menyangsikan perempuan untuk menjadi pemimpin di masyarakat.

Kondisi yang membudaya tersebut di masyarakat tentu merugikan perempuan yang memiliki keterbatasan. Apa yang akan terjadi pada ibu yang menjanda dengan banyak anak, anak perempuan yang orang tuanya sedang sakit keras, dan ketergantungan seorang istri pada pasangan yang berperilaku tidak layak kepadanya, jika perempuan terus dihadapkan pada diskriminasi di tempat kerja? Menurut Megan Garber, perempuan perlu melancarkan strategi kolektif dengan bersuara atas apa yang penting bagi dirinya di masyarakat.

Memperkuat suara sesama perempuan di tempat kerja atas masalah-masalah yang terjadi bisa membuka sebuah titik kunci karena perempuan lainnya akan mengikuti. Apalagi ketika permasalahan yang beraneka ragam tentang diskriminasi pada perempuan tersebut bisa digaungkan pada perempuan yang juga merasakan hal yang sama. Permasalahan yang ada di tempat kerja bisa selesai, kok, tanpa mengencangkan urat. Menggunakan humor bebas untuk bercerita dengan menyenangkan tapi sarat makna, menurut Megan Garber, bisa menjadi salah satu cara untuk memperbaiki keadaan secara perlahan.

Kadangkala, keadaan tak bisa berubah dalam kedipan mata, perlu ada harapan eksplisit yang viral dari perempuan serta kontribusi sistematis dan benar-benar dibutuhkan masyarakat agar kereta menuju perubahan bisa berjalan. Menurut Gillian Tett dan Jean Case, perempuan bisa mendapatkan kesetaraan di tempat kerja dengan laki-laki dengan berpikiran maju, berdiri tegak, berbicara lantang dengan percaya diri, dan selalu berani walaupun terkadang harus berpura-pura berani atau fakery-until-makery.

Kesetaraan dan kesamaan tentu hal yang berbeda, semacam serupa tapi tak sama. Setiap orang memiliki kodrat masing-masing. Hanya saja, diskriminasi muncul karena biasnya definisi kodrat dan pembagian peran karena konstruk sosial. Tak hanya diskriminasi yang muncul karena bias yang terjadi di masyarakat, tahta kepemimpinan pun diberikan kepada mereka yang paling sesuai dengan konsep kepemimpinan "yang berkuasa". Tapi, menurut Megan Garber, fakery-until-makery sangat penting bagi perempuan sebagai tindakan transisi untuk mencapai tujuan selama dunia masih memegang teguh stereotype kepemimpinan ada di tangan laki-laki.

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 88