Uangmu, Emosimu!

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 28 Juni 2017
Uangmu, Emosimu!

Ketika berbelanja di mall atau pasar swalayan, waktu membayar buat sebagian orang adalah waktu yang cukup berat karena saat itu ia bisa mengeluarkan uang hingga titik darah penghabisan uangnya. Setelah berbelanja, uang bisa habis tak bersisa. Rasa malu pun bisa saja menghinggapi kita ketika kartu tabungan atau kartu kredit yang diberikan kepada kasir ternyata tidak bisa digunakan. Respon kita mungkin bermacam-macam, malu lalu mengembalikan barang, atau mengusahakan dengan keras dan mengatakan dengan cepat “padahal masih ada saldo sepuluh juta, kok, mbak disitu”.

Reaksi perlindungan diri dari dugaan bahwa kita sebenarnya tak mampu membeli barang yang dijual tersebut menurut Suze Orman adalah hal yang wajar. Rasa takut, malu, dan marah memang emosi yang paling umum seputar uang, sob. Ketika berbicara tentang uang, uang tak hanya mengingatkan kita tentang saldo yang ada di tabungan kita tetapi juga ternyata sangat terkait, lho, dengan keadaan emosi. Bahkan terkadang perasaan emosional kita terhadap uang sangat kuat sehingga kita mulai membenci uang karena kepercayaan bahwa uanglah penyebab semua masalah kita.

Tak hanya saat masa-masa sulit, ketika kemujuran mendadak menghampiri kita, arogansi menyeruak dalam diri, memberi status tertinggi, juga pikiran bahwa kita memiliki power terhadap banyak hal. Banyak realita yang terjadi ketika tunawisma masuk ke toko mewah dilihat oleh orang-orang disana dengan sebelah mata. Berbeda dengan pandangan orang lain ketika melihat orang-orang berpakaian rapi dan bermobil mewah datang kesana. Orang cenderung lebih menghormati orang yang lebih kaya. Sedih tapi benar, kan?

Menurut Deevra Norling emosi yang muncul karena uang memiliki sumber masalah bukan dari uangnya. Tentu saja, karena uang adalah benda mati. Masalahnya selalu tentang bagaimana kita mendekati uang, bagaimana kita memikirkan uang, dan bagaimana kita menangani uang. Menurut Deevra Norling, orang yang selalu berpikir negatif tentang uang, cenderung terganggu oleh masalah uang seumur hidup mereka. Orang yang percaya bahwa uang adalah sesuatu yang berada dalam kendali mereka, adalah orang-orang yang menjadi lebih sukses dan pada akhirnya meningkatkan pemasukan mereka.

Orang-orang sukses memiliki uang banyak tersebut bukan orang yang mengeluh tentang kondisi kekurangan uang yang dialami, tetapi orang yang mendidik diri sendiri tentang uang. Menurut Danielle LaPorte kita perlu melihat uang sebagai energi yang memiliki hukum kekekalan energi. Sebagai bentuk energi, energi tersebut perlu kita kelola dan pastikan ia berjalan sesuai dengan niat kita sendiri, sob. Semakin jelas maksud dan target kita, semakin banyak uang bisa didapatkan. Sehingga efek emosional diri terhadap uang pun seharusnya bisa kita atur sebagaimana kita menghadapi energi tersebut tanpa ketergantungan.

  

 

*Dikutip dari Huffington Post.

  • view 67