Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 27 Juni 2017   11:20 WIB
Mudik? Ini Alasan Mengapa Waktu Berangkat Terasa Lebih Lama Dibanding Pulang

Musim mudik selalu menjadi waktu yang ditunggu-tunggu bagi hampir semua orang, terutama orang-orang yang memiliki hari libur panjang ketika musim mudik. Mudik menjadi tradisi spesial di Indonesia sejak lama, bahkan orang-orang yang tidak memiliki alasan untuk mudik karena tidak punya kampung pun mencari alasan untuk bisa merasakan “punya kampung” dengan mengisi waktu luangnya yang sangat lapang untuk pergi ke tempat yang lebih jauh dari rumahnya, ke luar kota atau ke luar negeri, misalnya.

Bagi orang tertentu, jalan-jalan mudiknya menggunakan jalur darat, dengan kendaraan beroda karet-bukan besi, atau melakukan perjalanan dari ujung benua yang satu ke ujung benua lainnya dengan waktu belasan jam di atas awan. Rasanya perjalanan pergi ke tempat tujuan amat panjang. Sudah bosan kita di jalan, kok, nggak sampai-sampai? Namun, setelah kita puas di tempat tujuan dan ingin kembali pulang, karena alasan apapun, perjalanan pulang dari tempat tujuan seringkali terasa jauh lebih cepat daripada perjalanan kita sebelumnya ke tempat tujuan. Kenapa begitu, ya?

Kondisi di atas terjadi karena ada return trip effect, sob, atau kondisi dimana saat jarak dan waktu perjalanan sama antara pergi dan pulang, waktu pulangnya terasa lebih pendek. Menurut Eric Jaffe, bukan berarti kita buruk dalam menilai berapa lama perjalanan ditempuh, tetapi kita hanya buruk dalam mengingat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk satu perjalanan tersebut. Niels Van de Ven melakukan penelitian tentang return trip effect ini menjelaskan lebih lanjut bahwa “sama seperti tugas rutin, perjalanan yang sudah dilalui dan familiar akan terasa hanya memerlukan sedikit waktu untuk menyelesaikannya”.

Tak hanya teori keakraban Niels Van de Ven, ada teori harapan yang berisi tentang besarnya harapan kita jika pergi ke suatu tempat. Menurut Niels Van de Ven, return trip effect juga terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara kenyataan terhadap ekspektasi atau harapan seseorang ketika ia berada dalam perjalanan. Seseorang merasa bahwa perjalanan pergi memakan waktu normal ketika ia melakukan perjalanan, ternyata lebih lama dari yang ia duga. Sebagai tanggapan dari dirinya sendiri, ia amat mungkin memperpanjang harapannya untuk perjalanan pulang. Dibandingkan dengan durasi yang diharapkan lebih lama tersebut, perjalanan pulang akhirnya jadi terasa lebih cepat.

 

  

*Dikutip dari Citylab.

Karya : Inspirasi Entrepreneurship