Senyum Palsu: Lingkungan Memaksaku Tersenyum Saat Perasaan Sedang Kacau Balau

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Motivasi
dipublikasikan 21 Juni 2017
Senyum Palsu: Lingkungan Memaksaku Tersenyum Saat Perasaan Sedang Kacau Balau

Semua di hadapan kita sedang berbahagia. Momen bahagia yang ada, seperti hari raya, hari ulang tahun, hari pernikahan, dan hari-hari bahagia lain tak bisa menahan siapapun untuk membuka senyum paling lebar yang pernah ada dalam hidupnya. Satu per satu wajah yang kita lihat semuanya menebar senyum paling indah yang pernah kita lihat. Namun, dalam satu pantulan kita melihat satu wajah dengan senyum yang getir.

Wajah kita. Ada kalanya kita tidak ikut serta menikmati keceriaan yang ada. Dunia sedang berada di sisi lain keceriaan itu, di sisi gelapnya, bagi kita. Entah apa penyebabnya, mau tak mau tentu kita perlu ikut arus lingkungan sekitar kita, kan, sob, walau hanya untuk menghargai tuan rumah.  Mingling atau berbaur dengan lingkungan bisa memudarkan getir yang tersirat dari wajah kita. 

Saat itu, mungkin kita sangat bisa untuk ikut merasakan aura kebahagiaan yang bertebaran di sekeliling dan menyembunyikan keretakan perasaan dan pikiran kita. Sudah cukupkah diri kita menahan sesuatu yang pahit? Cukupkan, sob. Rayakan kesedihan kita, walaupun orang-orang di sekitar kita sedang merayakan kebahagiaan yang nyata, kesedihan tak akan berlangsung lama, begitupun kebahagiaan.

Luangkan waktu untuk merayakan segala hal yang terjadi dalam hidup kita, dengan siapapun yang ada di depan kita tanpa perlu banyak syarat, harus orang ini atau harus orang itu. Ribet! Hal sederhana seperti itu, menurut Eric Barker, bisa menyeimbangkan kesengsaraan yang kita rasakan baru-baru ini. Setidaknya kita sudah usahakan untuk lebih bahagia, walau pikiran negatif tetap memberatkan langkah kita. 

Positivity. Senyuman palsu yang kita tebarkan tak cukup lama bisa menyelamatkan diri kita yang sedang sakit dan iri karena dihimpit oleh kebahagiaan-kebahagiaan di sekitar kita. Kebahagiaan selalu bisa kita dapatkan dengan mudah, lho, hanya saja kita seringkali meninggikan standar yang membuat hidup kita tidak efektif dan efisien. Pikirkan hal-hal yang bahagia saja. Jangan izinkan rasa sakit, kekecewaan, amarah, dan hal negatif lainnya masuk dalam dirimu, sob.

Berpikir dan bertindak lebih cerdas, dari godaan untuk bersikap berlebihan, bisa lebih membahagiakan kita. Seperti mensyukuri sembari menikmati banyak hal, lama kelamaan jahatnya hidup pada kita kemarin tak terasa lagi, mungkin karena kita tak membiarkan diri kita dijahati atau menjahati diri sendiri. Sehingga kita tak perlu berlama-lama memasang senyum palsu itu, sob. Senyum menawan yang asli lebih menyejukkan hati, kan? Tersenyumlah!

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 78