Hindari Kantong Jebol: Atur Anggaran Belanjamu dengan 4 Matriks Penting Ini

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 19 Juni 2017
Hindari Kantong Jebol: Atur Anggaran Belanjamu dengan 4 Matriks Penting Ini

Uang THR baru saja turun, tapi kok uang di dompet tinggal beberapa helai? Wah, kita memang perlu nikmati kemampuan finansial selama masih ada yang bisa dinikmati. Tapi, nggak menutup kemungkinan, kan, sob, uang-uang kita terbang kesana-kemari keluar dari kandangnya karena kebiasaan kita belanja barang tanpa berpikir dua kali.

Menurut Pamela Capalad, pengaturan anggaran memang bersifat pribadi tergantung dengan kebutuhan kita, tak ada yang salah jika kita senang setiap saat. Masalahnya, kesenangan berbelanja hanya muncul ketika kita merasa “mampu” untuk membeli, tanpa berpikir tabungan untuk anak cucu kita nanti. Serius, ini mungkin lebay, tapi dengan sedikit bantuan dari kita, mereka bisa sejahtera. Bahkan, bisa lebih banyak orang yang sejahtera, kan?

Walaupun bicara tentang penganggaran biaya cenderung selalu memusingkan, budgeting tetap perlu diperhatikan untuk kesejahteraan dompet kita esok, gengs. Budgeting ini tak selalu harus dengan membuat spreadsheet di gadget canggih untuk mengelola segala keruwetan alokasi anggaran kita. Tanpa spreadsheet, pendekatan anggaran bisa lebih disederhanakan dengan aturan 50/30/20, di mana 50% pengeluaran disesuaikan dengan kebutuhan, 30% sesuai dengan keinginan, dan 20% masuk ke tabungan.

Sebelumnya, kita satukan persepsi dahulu kalau budgeting bebas nilai-nilai gender, lho, siapapun bisa lalai kalau tak memperhatikan beberapa hal, menurut Pamela Capalad, ini saat punya uang.

Mendesak & Penting

Kuadran pertama dalam alokasi anggaran keuangan kita, nih, sob. Isinya benar-benar fokus pada kebutuhan fisik kita, seperti makan, akomodasi, sewa-sewa, tagihan listrik, telepon, kesehatan, dan lain-lain yang masuk akal. Tanpa kuadran ini, hidup kita sekarat banget. Masukkan hal-hal yang benar-benar penting disini, ya, tidak termasuk lipstick atau pomade.

Mendesak & Tidak Penting

Sebetulnya, tidak ada yang tidak penting, ya, kalau bicara tentang kebutuhan. Tapi, kita kudu wajib masukkan sesuatu di kuadran dua ini yang memang cenderung tidak sepenting isi pada kuadran pertama. List yang dimasukkan ke kuadran ini adalah hal-hal yang kita butuhkan secara emosional, sob, seperti ke salon, refleksi, lipstick dan pomade, romantic dinner, nanjak gunung untuk sekadar get away dari hiruk pikuk aktivitas, bahkan, anggaran untuk kopi.

Tidak Mendesak & Tidak Penting

Kuadran ketiga ini adalah tempatnya kita belanja tanpa berpikir sesuatu itu dibutuhkan atau tidak, misalnya membeli barang-barang yang sebenarnya kita hanya “lapar mata”, seperti, lipstick yang kita punya sudah ada lima buah untuk dipakai berbeda setiap hari, tapi kita selalu ingin beli lagi warna lain dari produsen yang berbeda. Black hole pengeluaran ada di kuadran ini karena kita membeli sesuatu yang akhirnya tidak terpakai bahkan tidak ingat kalau kita punya barang tersebut.

Tidak Mendesak & Penting

Kuadran keempat ini cukup menakutkan jika dipikirkan. Kuadran ini berisi kemungkinan yang ada di masa depan, seperti kepemilikan rumah, memulai keluarga, hingga pensiun. Ketika mencatat list pada kuadran ini, isinya berupa wish-list yang akan kita lakukan nanti dan terasa tidak mendesak. Kita tahu hal-hal di kuadran ini, teorinya, penting bagi kita, tapi lebih mudah membiarkan diri ini tergoda oleh list dari kuadran ketiga.

Sebelum mengisi kuadran-kuadran di matriksmu sendiri, selalu tanyakan pada diri sendiri mengapa kita benar-benar perlu membeli sesuatu, sob. Mengelola budgeting yang baik ini bisa menjadi langkah awal untuk benar-benar menyelaraskan pengeluaran yang kita butuhkan dengan nilai-nilai hidup kita sendiri, lho. Ada saatnya nanti kita sudah terbiasa “mengisi” matriks tersebut di pikiran kita tanpa menuliskannya.

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 37