Cek di Sini: Apakah Ekspektasi Kebahagiaanmu Terlalu Tinggi?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 19 Juni 2017
Cek di Sini: Apakah Ekspektasi Kebahagiaanmu Terlalu Tinggi?

Kultur budaya saat ini menggembleng kita untuk selalu menjadi sebaik-baiknya diri, kan, sob. Lebih jauh lagi, selalu menjadi nomor satu ditargetkan menjadi tujuan hidup sebagian besar orang dengan ekspektasi tinggi yang mengiringi di sepanjang jalan mencapai tujuan. Setelah mendapatkan apa yang kita mau, rasanya kesenangan-kesenangan ketika tujuan tercapai membuktikan bahwa usaha kita selama ini benar-benar berhasil.

Menurut James Baraz, ketika kita merasa senang karena tujuan yang tercapai, saat itu juga kita rentan untuk salah paham dengan prinsip kebahagiaan dan tercapainya tujuan-tujuan kita, lho. Misalnya, ketika kita sejahtera, kita baru bisa bahagia. Ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, pada tujuan-tujuan kita yang di atas langit dengan ekspektasi tinggi pula, kita baru bisa bahagia. Pokoknya kalau nggak ada yang kita mau, belum tenang, deh.

Hati-hati, sob, ada ilmunya, nih. Secara science, kejadian yang kita alami tersebut sebagai confirmation bias. Fenomena bias konfirmasi tersebut terjadi ketika otak kita cenderung melihat apa yang dipercaya olehnya sebagai hal yang benar-benar nyata dan melupakan apapun yang tidak mengonfirmasi hipotesis dari otak kita. Sehingga, ketika kita berpikir bahwa kita tidak benar-benar bahagia karena kita memegang teguh gambaran pikiran tentang sebuah puncak kebahagiaan lain, kita cenderung akan menyimpan kepercayaan itu, sob, dan tidak bahagia.

Sudah diketahui selama ini bahwa ketika kita mengejar kebahagiaan dengan tingkatan yang tidak realistis, sebenarnya berpeluang untuk berakhir dengan kekecewaan besar. Iris Mauss pun mendukung pernyataan tersebut dengan kita mengejar kebahagiaan yang abstrak, kebahagiaan yang akan didapatkan semakin sulit untuk dipahami. Bahkan, menurut Jeremy E. Sherman, bahagia bisa kita dapatkan dengan lebih baik ketika kita memiliki harapan yang rendah.

Harapan akan kebahagiaan yang tinggi perlu ada jika kita membutuhkan perbaikan untuk hidup kita. Kita mungkin lebih berpeluang besar untuk kecewa, tetapi esoknya kita bisa memperbaiki lebih baik lagi, sob. Harapan akan kebahagiaan yang biasa saja bisa menghasilkan kepuasan dan rasa syukur jika ternyata yang kita dapatkan lebih baik dari ekspektasi kita. Jadi, nggak perlu, ngarep-ngarep banget sama apapun yang nggak bisa kita bisa usahakan dengan tangan kita sendiri. Akhirnya pun semua disahkan oleh Tuhan dan kemampuan kita dalam mengelola harapan, kan?

  

 

*Dikutip dari berbagai sumber.  

 

  • view 60