Apakah Kebahagiaan Anak Bisa Sejalan Dengan Bentuk Ideal Masa Depan Cerahnya?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Motivasi
dipublikasikan 16 Juni 2017
Apakah Kebahagiaan Anak Bisa Sejalan Dengan Bentuk Ideal Masa Depan Cerahnya?

Hari ini hampir semua orang diberi asupan dogma yang tak bisa ditolak bahwa ketika seorang anak lulus dengan cepat, mendapatkan nilai yang bagus, pekerjaan yang bagus, gaji yang bagus, hidupnya akan lebih bahagia dan ia dikatakan sukses. Sehingga, orang berlomba-lomba mengajarkan anak-anaknya untuk menuju kebahagiaan, yang didefinisikan sebagai hanya pekerjaan “itu” yang bagus dan bisa membahagiakan.

Saking semua orang mau jadi dirinya, kalau bukan orang tersebut, maka itu dianggap bentuk kegagalan yang nyata. Mau jadi apa nanti? Sampah masyarakat, katanya. Tapi, nyatanya, saat ini, pemilik pekerjaan “itu” juga banyak yang mencari kebahagiaan lain karena ternyata iming-iming sukses plus-plus tersebut hanya fatamorgana seperti sebelum berbuka puasa. Tidak ada euforia seperti yang dibayangkan selama ini, padahal sudah capek dan tertekan setengah mati untuk mendapatkan posisi tersebut.

Kesuksesan seolah bukan menjadi tolak ukur kebahagiaan kalau berkaca dengan kasus di atas. Tetapi, tentu saja anak-anak sangat perlu jadi manusia yang sukses dan bahagia. Terlepas dari relativitas kesuksesan dan kebahagiaan, menurut Sonya Lyubomirsky, kebahagiaan didefinisikan sebagai pengalaman sukacita, kepuasan, atau positif well-being, yang dikombinasikan dengan rasa bahwa hidup seseorang itu baik, bermakna, dan bermanfaat.

Kombinasi emosi positif dan well-being berkontribusi besar, lho, untuk proses belajar dan mendapatkan well-being. Bahkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh University College London pada 15.000 anak berusia dewasa muda, ketika anak-anak bahagia dan puas dengan hidupnya, ia akan lebih berpeluang untuk mendapatkan hidup yang diinginkan oleh semua orang. Caranya tak selalu menggenjot anak-anak agar selalu sejalur dengan norma pendidikan dan kesuksesan yang dibuat sedemikian rupa, yang sayangnya saat ini membuat stress dini tunas-tunas bangsa tersebut.

Menurut Vicki Zakrzewski dan Peter Brunn, hidup yang lebih bermakna tak hanya bisa didapatkan dengan membahagiakan diri sendiri, tapi juga membahagiakan orang lain. Kegiatan belajar mengajar di sekolah, termasuk mengerjakan pekerjaan rumah yang banyak itu, perlu diiringi dengan tujuan kerja masa depan tanpa orientasi sepihak dari pihak-pihak superior, seperti orang tua dan guru. Dr De Neve, seorang peneliti dari Inggris, menyarankan pihak berwenang untuk membuat lingkungan emosional yang sehat bagi anak-anak agar ia tetap bahagia serta mencapai masa depan cerah dan paling ideal dengan tidak memaksakan kehendak pada anak-anak maupun benar-benar membiarkan anak-anak mencari jalannya sendiri, sob.

 

 

 *Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 92