Kekerasan pada Remaja: Dampak dan Solusinya, Bagaimana, Sih?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 15 Juni 2017
Kekerasan pada Remaja: Dampak dan Solusinya, Bagaimana, Sih?

Remaja. Banyak yang terlintas ketika kata-kata itu disebutkan. Ada yang bilang remaja adalah puncaknya masa-masa alay, ada juga yang menyebutkan kalau remaja merupakan fase kehidupan transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa muda. Menurut John W. Santrock, masa hidup manusia banyak pergeserannya ketika ia remaja, dari mulai biologis, kognitif, maupun sosialnya. Ketika terjadi perubahan dan ternyata terjadi intervensi merugikan, maka perubahannya cenderung sulit untuk diubah ketika telah melewati masa-masa transisi (masa remaja) tersebut. 

Dalam masa remaja, yaitu biasanya pada rentang 10 tahun hingga 21 tahun, banyak terjadi hal-hal baru yang menyenangkan. Lebih menyenangkan dari bayangan siapapun. Ternyata, menurut Stanley Hall, dari bagian menyenangkan tersebut ada juga yang tidak mengenakkan ketika ini terjadi karena masa remaja berisi masa-masa penuh tekanan. Banyak tekanan yang terjadi itu bisa berbentuk “tekanan” positif, untuk perkembangan dirinya, maupun negatif, yang merusak dirinya seperti kekerasan pada remaja. 

Kekerasan pada remaja. Kekerasan, apapun alasannya, selalu tidak menyenangkan dan dilarang pada hampir seluruh lingkungan tempat para remaja berada. Kekerasan tersebut juga membuat otak remaja ternyata mengecil, lho. Sebuah studi dari Yale School of Medicine menemukan bahwa ada area otak remaja laki-laki dan perempuan, yang terkena dampak penganiayaan, mengecil karena hilang bagian abu-abu pada otaknya. 

Kekerasan tersebut, yang terjadi bisa berupa pelecehan atau pengabaian secara fisik maupun emosional, bisa menyebabkan berkurangnya performa di sekolah dan meningkatkan kerentanan mereka terhadap depresi serta gangguan perilaku, sob. Para peneliti, di Departemen Psikiatri dan Radiologi Diagnostik Yale Child Study Centre, juga menemukan pengurangan materi abu-abu tersebut pada remaja laki-laki, cenderung terkonsentrasi di daerah otak yang terkait dengan kontrol impuls atau penyalahgunaan zat. Sedangkan pada anak perempuan, pengurangannya berada di daerah otak yang terkait dengan depresi.

Gangguan pada remaja tersebut bisa diminimalisasi dan dicegah agar remaja tersebut tidak “membalasnya” kepada remaja lain. Salah satu solusinya adalah blogging. Ya, menulis. Menurut American Psychological Association, blogging memiliki manfaat psikologis bagi remaja yang menjadi penyintas (atau korban, diberikan redaksi penyintas sebagai bentuk dukungan penguatan untuk korbannya) yang menderita kecemasan sosial.

Menulis tulisan indah, berbentuk blog pribadi dan tulisan ekspresif lainnya, menurut Meyran Boniel-Nissim, juga bisa meningkatkan harga diri dan membantu mereka berhubungan lebih baik dengan teman-temannya. Tak hanya harga diri, kecemasan sosial dan tekanan emosional terlihat lebih positif dibandingkan dengan remaja yang tidak melakukan apa pun. Hal tersebut terjadi karena ungkapan kekecewaannya sudah terlampiaskan pada tulisan rutin dalam blog-nya. Blogging atau menulis bisa menjadi sarana pelampiasan paling mudah, murah, dan bisa dilakukan "tersembunyi" dalam diam, lho.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

Dilihat 248