Ponsel dan Kesehatan Mental: Dampaknya Baik atau Buruk?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 14 Juni 2017
Ponsel dan Kesehatan Mental: Dampaknya Baik atau Buruk?

Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang menggunakan smartphone terbanyak kelima di dunia pada tahun 2016, menurut Sindo News Online, dengan perkiraan 100 juta orang menggunakan perangkat pintar untuk menemani hari-harinya. Semua informasi hari ini lebih cepat diketahui melalui genggaman tangan saja, sob. Tren paling hits bisa dengan cepat tersebar dari ujung dunia ke Indonesia hanya dalam hitungan jam. Segalanya jadi berjalan lebih cepat dan lebih jauh menjangkau ke seluruh jangkauan wilayah yang ada.

Semua sisi positif pasti memiliki sisi penyeimbang, yang tak sebaik keuntungan dari penggunaan ponsel pintar tersebut. Apalagi dalam penggunaan ponsel berlebihan, sisi positifnya bisa tidak terlihat bermanfaat, sob, pastinya. Postur tubuh, penglihatan, dan pendengaran kita bisa sangat terganggu. Ponsel pintar itu juga bisa mengalihkan perhatian pengendara dan pejalan kaki, kan, hingga akhirnya dibuat peraturan terkait penggunaan smartphone di jalan raya.

Pada sebuah penelitian tentang komputer dan perilaku manusia, berjudul “Fear of Missing out, need for touch, anxiety and depression are related to problematic smartphone use”, ketika kita menikmati aktivitas surfing internet dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, ada aktivasi perilaku untuk bersosialisasi yang berkurang. Ketergantungan untuk membalas semua pesan yang masuk pun membuat kita terpaksa harus standby hingga 24 jam kalau smartphone kita menyala. Penggunaan smartphone yang berlebihan tersebut, menurut Jordan Rosenfeld, bisa mengarah pada depresi tinggi dan kecemasan pada penggunanya.

Menurut Jordan Rosenfeld, adiksi smartphone ketika sampai pada tahap yang dilarang dan berbahaya dapat menyebabkan penggunanya merasa mudah tersinggung atau gelisah jika berpisah dari ponsel. Ia pun bisa dengan mudah merasa cemas dan kesepian saat tidak bisa mengirim atau menerima pesan langsung. Remaja dan perempuan lebih rentan mengalami beberapa hal tersebut, lho, sob. Ketika awalnya hanya berupa gangguan pengaturan emosi negatif, seseorang bisa mengalami pola emosi negatif tersebut sehingga kesehatan mentalnya terganggu.

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 97