Kamu Sering Makan Sendirian? Untung atau Rugi, Sih?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 12 Juni 2017
Kamu Sering Makan Sendirian? Untung atau Rugi, Sih?

Makan sendirian di mana pun hampir selalu dianggap menjadi hal yang menyedihkan, tak ada teman juga saudara, ah, sedih banget, deh. Hal itu, menurut Lauren Martin, distigmakan oleh Hollywood dari film-film yang ditampilkan untuk ditonton oleh masyarakat luas, sob. Mereka yang tak bisa ditemani makan oleh orang lain dianggap sudah pasti merasakan sedih dan kesepian, bahkan dianggap sebagai orang-orang terbuang. Sehingga, ada rasa takut di-judge orang lain ketika makan sendirian di salah satu restoran kesayangannya.

Single-fighter bisa menikmati makanannya sendiri tanpa harus menatap orang tersebut-berhenti makan-mengobrol-lalu terganggu makannya karena ia orang yang kuat dan percaya diri untuk bisa makan sendirian di tempat-tempat ramai, lho. Mereka pun cenderung lebih berani dan lebih bahagia. Menurut Lauren Martin, makan sendirian bisa membuat kita menikmati keheningan pikiran selagi melihat dunia berlalu-lalang di depan mata. Tidak perlu repot berpikir pembicaraan yang, misalnya, tidak disukai karena kita tak perlu menjamu siapapun selain diri kita tersayang. Semacam me-time gitu, sob.

Meski me-time penting untuk menjaga stabilitas ketenangan pikiran kita, menurut Tim Newman, kita tetap membutuhkan teman untuk makan bersama demi menjaga stabilias suasana hati. Hal itu juga diteliti oleh Nobuyuki Kawai yang menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua akan memiliki nafsu makan yang tinggi jika ia makan dengan orang-orang yang dekat dengan mereka. Jika tidak, kualitas hidup orang tersebut akan menurun dan mengalami depresi yang lebih tinggi disertai kurangnya nafsu makan. Kebahagiaan yang kita alami saat kita akan makan kita juga menentukan, lho, apakah makanan yang kita rasakan betul-betul enak atau nggak.

Walau ada hasil penelitian bahwa seseorang bisa makan lebih banyak dan menilai makanannya terasa lebih enak jika mereka makan dengan orang lain, ia bisa “ditipu”, dengan makan bersama cermin yang memantulkan bayangannya sendiri bisa membuat ia bahagia, sob.  Ketika itu, otak merasa ada yang menemani dengan melihat gambar visual. Selain itu, makan di depan cermin bisa mengalihkan fokus kita ketika berada di sebuah restoran. Solusi cerdas kan, sob. Kalau malu sendirian makan di restoran, duduk di dekat cermin, saja, bisa tetap bahagia. Ada atau nggak orang yang menemani makan, bisa tetap disiasati agar tetap nikmat, lah, ya..

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 74