Kamu Bisa Terkenal. Tapi, Nggak Pakai Cara Ini, Dong!

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 12 Juni 2017
Kamu Bisa Terkenal. Tapi, Nggak Pakai Cara Ini, Dong!

Menjadi populer hampir menjadi idaman semua orang. Wah, siapa yang nggak mau mengejar tangga popularitas kemungkinan besar dia diam-diam berdoa untuk menjadi populer juga, sob, hoho. Memang ada tipe orang yang tak terpikirkan untuk menjadi superstar, esoknya tiba-tiba sinarnya berkilauan dan seluruh orang ingin melihatnya. Banyak juga orang mencoba mencari sinarnya sendiri, tapi dengan cara yang tidak menyenangkan karena seharusnya popularitas yang ideal diiringi dengan prestasi dan kemampuannya sendiri.

Ketika seseorang menjadi populer, tangga popularitas yang ia naiki tentu perlu bermanfaat untuk orang lain, misalnya menyenangkan orang lain. Walaupun popularitas yang didapat tak hanya dalam konteks positif tapi juga konteksnya bisa negatif. Menurut Mitch Prinstein, seorang pakar psikologi yang meneliti tentang popularitas manusia, ada dua tipe aspek psikologi yang bisa membuat seseorang menjadi terkenal. Seseorang menjadi terkenal bisa karena preferensi sosial (likability) maupun reputasi sosial (status) yang dimilikinya.

Bagi seseorang yang ingin menjadi orang terkenal, sifat-sifat bersahaja perlu diterapkan setiap hari sejak dini. Kepriadian diri yang lebih disukai oleh banyak orang, menurut Mitch Prinstein, biasanya adalah seseorang yang memunculkan keaslian dirinya yang apa adanya untuk mendapatkan preferensi sosial yang baik. Autentisitas yang tidak berlebihan ditonjolkan kebaikannya, apalagi keburukannya, dan memancarkan positivitas untuk orang banyak akan sangat dihargai oleh orang lain. Hal itu tak lengkap bila kita tidak membiasakan diri memiliki berperilaku positif untuk membangun hubungan baik dengan banyak orang.

Menurut Richard Feloni, keinginan kita untuk dikenal oleh banyak orang tak pernah menjadi masalah bila keinginan itu bukan satu-satunya fokus kita, sob. Jika kita hanya fokus menjadi terkenal, bisa saja kita menggunakan taktik licik seperti intimidasi, intimidasi, dan penegasan kekuasaan untuk naik ke puncak hanya untuk melonjakkan reputasi kita, tapi it’s a big NO NO. Seseorang yang fokus dengan likability, menurut Mitch Prinstein, akan menjadi pribadi yang lebih bahagia dan sukses di mata masyarakat.

Pencapaian popularitas dengan cara merajut likability dengan orang lain juga menjadi investasi jangka panjang yang akan membantu kehidupan kita, lho, karena orang lain akan bersedia “membalas” kebaikan yang kita berikan dengan berbagai macam cara. Siklus kebaikan tersebut akan terus berputar jika kita menjaganya. Energi yang menggerakkan siklus itu tentu usaha-usaha likability dengan memperhatikan kebutuhan orang lain, membuat orang lain merasa diterima, dan benar-benar peduli dengan orang lain tentunya akan meningkatkan preferensi sosial kita. Sehingga kita bisa punya “pasukan” tanpa harus merekrut secara formal dan menyalakan bom waktu, sob.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 62