Aku Menguap, Kamu Juga Menguap. Kamu Perhatian, Ya, Sama Aku?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 09 Juni 2017
Aku Menguap, Kamu Juga Menguap. Kamu Perhatian, Ya, Sama Aku?

Banyak ilmuan percaya kalau menguap adalah proses yang menjadi rambu-rambu bahwa tubuh kita lelah dan membutuhkan tidur. Kalau kamu ngantuk, ya, kamu menguap. Tapi, kok, pas aku menguap, kamu juga ikut-ikut menguap? Hmmm, menurut Kate Samuelson, sebanyak 60%-70% orang di sekitar kita akan menguap ketika melihat orang lain juga menguap, sob. Ada refleks diri masing-masing orang ketika terpicu oleh apa yang dilihat orang tersebut.

Pada berbagai penelitian terbaru, menguap ternyata bukan hanya sekadar respons ngantuknya manusia, lho. Menguap yang dilakukan seseorang bisa menjadi salah satu tolak ukur kepribadiannya. Ketika kita sedang memperhatikan orang lain yang menguap lalu kita menguap juga, juga saat kita secara otomatis tersenyum kepada seseorang saat mereka tersenyum, saat itu sebetulnya kita sedang berempati dan memiliki emosi yang selaras dengan orang tersebut.

Menurut Brian Rundle, ketika seseorang diberikan video klip berisi gerakan-gerakan wajah, yang bisa menunjukkan empati serta digunakan untuk mengetes seseorang, dan ia tidak ikut menguap artinya orang tersebut memiliki rasa empati yang sedikit. Ia pun berkecenderungan memiliki perilaku psikopat karena kurangnya empati tersebut.  Hal itu dikarenakan adanya hubungan neurologis dan gejala gangguan mental (psychopathy).

Namun, semakin sering kita menguap ketika orang di sekitar kita menguap, tandanya kita juga semakin muda, sob. Menurut Kate Samuelson, orang berusia kurang dari 25 tahun bisa secara terus-menerus menguap ketika diperlihatkan video tes gambar gerakan-gerakan wajah. Tak hanya orang-orang yang berusia sangat muda tersebut, orang yang sering memperhatikan perilaku orang lain cenderung lebih bisa secara refleks mengikuti apa yang orang lain itu lakukan, lho.

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 88