Kamu Senang Membuat Orang Lain Bahagia? Pastikan Kamu Bahagia Juga!

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 08 Juni 2017
Kamu Senang Membuat Orang Lain Bahagia? Pastikan Kamu Bahagia Juga!

Menjadi orang yang menyenangkan pasti menjadi dambaan bagi banyak orang. Siapa yang tidak senang kalau dirinya diterima oleh orang lain? Ada harga dan percaya diri yang tumbuh bersamaan dengan penerimaan orang-orang kepada diri kita. Sejak saat itu, perasaan senang itu mendorong dopamine untuk memaksa kita menjadi people pleaser.

Menjadi sumber kebahagiaan orang lain jadi terdengar menyenangkan, bukan? Tak masalah jika memang kita senang dengan kondisi people pleaser tersebut, nyatanya matahari yang mampu menyinari bumi selalu ditunggu-tunggu, kan, sob. Nggak ada yang lebih menyenangkan selain menjadi orang yang ditunggu dan, ehm, agak dipuja.

Walau begitu, menurut Patty Onderko, menjadi orang baik yang peduli dengan kesejahteraan orang lain berbeda dengan menjadi orang yang tidak pernah ingin mengecewakan siapapun, lho. Bisa jadi ketika awalnya kita merasa senang jika membantu orang lain, lama kelamaan kita nggak enak sendiri kalau kita nggak melakukannya.

Menurut Helen Odessky, ada kecenderungan saat terjebak dalam kondisi tersebut, kita lebih mengorbankan kesejahteraan diri sendiri karena ketakutan bahwa ada peluang untuk tidak akan dicintai, dihargai atau dikagumi lagi ketika kita berhenti menyenangkan orang lain.

Hmm, bahaya. Tapi tenang, gengs, ada solusinya, kok. Misalnya, ada orang yang nampaknya parasit buat kita, terbiasa meminta bantuan yang sebetulnya masih bisa ia kerjakan sendiri tapi akhirnya meminta tolong kita dan tugas kita jadi belum selesai karena orang itu. Kita harus gimana, dong?

Latih diri mulai dari sekarang untuk menunda memberi jawaban pada orang tersebut, gengs. Ungkapan sederhana, seperti: ”biar ku periksa jadwalku dulu, ya, nanti kukabari", bisa membuat kita berpikir lebih jernih, apakah tugas kita sendiri sudah aman atau masih ada yang perlu dikerjakan. Beranikan diri untuk mengambil prioritas tanpa membuat kita menjadi orang yang menyebalkan untuk orang lain.

Jangan biarkan rasa bersalah menjadi panduan hidup kita ketika memutuskan untuk tidak menerima permintaan tolong orang lain tersebut, ya, mereka pasti bisa mengerti kalau ada saatnya kondisi mereka memang benar-benar tidak bisa kita tolong. Atur diri sebaik mungkin dalam mengelola jadwal hidup kita, sob, agar bisa mulai membangun batas-batas sehat yang akan melindungi serta memperdalam hubungan kita dengan banyak orang.

 

 

 *Dikutip dari Success Magazine.

  • view 54