Asal Usul Psikopat: Hindari Cara Asuh Ini Pada Anak!

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 05 Juni 2017
Asal Usul Psikopat: Hindari Cara Asuh Ini Pada Anak!

Psikopat. Banyak pikiran yang terlintas ketika kita mendengar kata-kata tersebut. Dari mulai adegan penyiksaan, bacok-membacok tanpa perasaan bersalah, hingga pembunuhan berantai seperti yang beberapa kali di sebuah film investigasi kriminal, seperti CSI atau Law and Order. Hampir semua orang yang menjadi pelaku, di film-film yang diadaptasi dari kisah nyata tersebut-walaupun dengan karakter fiksi, disebabkan oleh gaya pengasuhan "ekstrem" dari pengasuh psikopat tersebut. 

Seorang menjadi psikopat, menurut penelitian dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Norwegia, karena ada penganiayaan fisik dan atau mental yang mengerikan selama psikopat tersebut menjalani masa kanak-kanaknya. Seorang disebut psikopat ketika ia menderita gangguan jiwa kronis dengan perilaku sosial yang tidak normal atau kejam. Umumnya, seorang psikopat dilihat sebagai orang yang sangat kurang berempati dan memiliki kecenderungan untuk memanipulasi orang tanpa rasa bersalah.

Terdapat juga riwayat kelalaian pengasuhan dari orang tua yang mengasuh anak-anak secara otoriter berat, obsesif, dan kaku menyebabkan seseorang tersebut lebih berpeluang untuk menjadi psikopat di masa depan. Ia, dengan kecenderungan tujuan untuk balas dendam, melakukan hal yang serupa bahkan lebih parah kepada orang-orang di lingkungannya agar memuaskan hasrat ‘lain’ pada dirinya yang muncul karena kelainan yang dialaminya selagi ia anak-anak. Walaupun begitu, menurut Sarah Barns, kebanyakan psikopat tersebut diasuh dengan berbagai cara pengasuhan ekstrem yang terlalu keras ataupun terlalu bebas. 

Ada anak-anak yang secara genetik memiliki kelainan koneksi antara komponen sistem emosional otak yang, menurut William Hirstein, membuat ia tidak peduli dan tidak berperasaan untuk orang lain secara mendalam. Menurut R. James dan R. Blair, seorang psikopat juga tidak pandai untuk mendeteksi ketakutan di wajah orang lain serta memiliki ambang batas yang tinggi untuk hal-hal normal seperti pada umumnya orang lain. Sehingga, perlu asuhan dari lingkungannya untuk membimbing dirinya ke arah yang lebih baik dan menekan kekurangan dari sifat bawaan dirinya. 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber. 

  • view 357