Jadi Diri Sendiri di Tempat Kerja. Perlukah?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 02 Juni 2017
Jadi Diri Sendiri di Tempat Kerja. Perlukah?

 

Pekerjaan kita adalah perjalanan kita menuju puncak karier. Hampir semua orang memiliki motivasi kerja yang kuat karena ingin memenuhi keinginannya sendiri maupun keinginan orang-orang yang ia sayangi. Banyak saran-saran yang diberikan oleh ‘senior’ pekerja kepada ‘juniornya’ tentang bagaimana seharusnya menjalani pekerjaan dengan menyenangkan untuk akhirnya lebih cepat mencapai tangga karier tertinggi. Namun, menurut Lennox Morrison, saran tentang pekerjaan paling umum bisa benar-benar menyesatkan kita.

Banyak saran tentang menjadi diri sendiri, dimanapun kita berada, akan membuat kita tenang dan bahagia selamanya. Tapi, tidak dengan saran “jadi diri sendiri” tersebut di tempat kerja. Lennox Morrison berpendapat, “jadi diri sendiri itu penting, tapi tidak di tempat kerja”. Hal itu akan menjadi kurang fokus jika diterapkan di tempat kerja, terutama dalam berkolega. Tak perlu berlebihan “terlalu jujur” dengan rekan kerja karena, dalam keadaan tertentu, kondisi tersebut dapat menjadi boomerang untuk kita.

Boomerang itu berupa batas-batas yang mengabur dalam penilaian atasan atau bawahan di tempat kerja kepada kita. Menurut Profesor Herminia Ibarra, ahli perilaku dan kepemimpinan organisasi di London Business School dan Insead di Prancis, orang-orang yang telah dipromosikan berisiko gagal dalam peran barunya jika mereka memiliki gagasan tetap tentang kepribadian 'asli' mereka sendiri. Kegagalan tersebut terjadi diduga karena tidak adanya perubahan penyesuaian tingkah laku yang sesuai dengan perubahan status mereka.

Seseorang yang mampu melihat diri mereka, dalam artian mengerti dirinya sendiri dan memahami keaslian diri sendiri, sebaiknya bisa mempersiapkan diri untuk menjadi “asli” sesuai dengan kondisi hidupnya hari ini maupun besok, pun dengan siapa ia berinteraksi.  Ketika menjadi diri sendiri, seringkali kita berpikir bahwa ada yang memang kita pikir perlu untuk dilakukan. Menurut Jeremiah Stone, tim spesialis perekrutan di Hudson RPO, New York, itulah yang bahaya. Misalnya, dalam sebuah wawancara perekrutan di kantor, buatlah perekrut itu merasakan kemampuan kita di pekerjaan tersebut. Tak perlu berlebihan menunjukkan keaslian kita, yang sebenarnya belum pas di pekerjaan itu, selagi kita terus mencocokkan dan menambah kemampuan diri untuk pekerjaan tersebut.

 

 

*Dikutip dari BBC.

  • view 182