Ego: Bisakah Ia Menghancurkan Karier Kita?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 31 Mei 2017
Ego: Bisakah Ia Menghancurkan Karier Kita?

Ego dalam diri kita mulai terlihat ketika kita berusia dua sampai tiga tahun. Menurut Sigmund Freud, ego merupakan komponen kepribadian kita yang berfungsi untuk pengambilan keputusan. Ketika kita mulai mengerti alasan dari terjadinya sesuatu atau memahami apa yang kita inginkan, sudah ada ego dalam diri kita karena ego muncul tidak tanpa alasan. Ego dalam diri kita juga yang menjadi pemandu bagaimana kita berperilaku untuk menghadapi realitas sosial, seperti norma, etiket, dan peraturan sosial. 

Menurut J. Maureen Henderson, ego diri kita sebenarnya membuat kita lebih rentan menjalani hidup. Hal itu dikarenakan seringkali ego diri kita selalu mencari kesenangan dalam sadar yang membuat kita mencari cara untuk memenuhi keinginan akan kesenangan tersebut. Terkadang dengan mengikuti ego kita, ada eksploitasi yang terjadi, di tempat kerja misalnya. Sebenarnya kita tidak ingin suatu pekerjaan dilakukan karena jam kerja sudah habis atau memang bukan tugas kita untuk mengerjakannya, karena ego tersentil, pekerjaan itu akhirnya kita lakukan juga. Akhirnya, ego tersebut mengatur pikiran kita, bahkan bisa ditunggangi untuk menjaga kepentingan orang lain. 

Ego bisa menjadi pelatih karier yang buruk untuk kita. Ketika ego telah mengajak kita untuk memenuhi keinginannya, kita menjadi seseorang yang tetap tinggal saat sebenarnya harus pergi, dan pergi saat sebenarnya kita harus tinggal. Ego diri kita tidak memiliki konsep yang benar dan salah, ia hanya murni mencari kesenangannya. Prioritas kita pun bisa terganggu ketika ego dalam diri kita tidak dikendalikan karena ego bisa muncul dari pujian bahkan ‘drama’ dengan orang lain. 

Ketika dikendalikan oleh ego, lebih mungkin bagi diri ini untuk tidak mengambil risiko yang akan membantu kita tumbuh, karena selalu ada kemungkinan untuk gagal, terlihat bodoh, atau kita menyadari bahwa yang dilakukan saat ini bukanlah diri kita sendiri. Ego sering meyakinkan kita bahwa kita tidak dapat menahan ‘pukulan’ yang dilakukan oleh kondisi di sekitar kita. Meskipun begitu, kita membutuhkan ego secukupnya. Tanpa ego, kita tidak hampir tidak bisa hidup senang dan mencapai kesuksesan yang kita inginkan karena seringkali ego memacu kita untuk mencari kesenangan-kesenangan baru. Ia juga bisa kita arahkan menjadi lebih rasional, realistis, dan berorientasi dengan penyelesaian suatu masalah. Hindari terjebak dengan mengejar kepuasan langsung dan rasa aman tanpa memikirkan realitas masa depan ya, sob.

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 67