Mengapa Kita Cenderung Mengikuti Tren? Ada Fakta Ilmiahnya, Lho!

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 30 Mei 2017
Mengapa Kita Cenderung Mengikuti Tren? Ada Fakta Ilmiahnya, Lho!

 

Apa yang kita lakukan ketika kita sedang di jalan antah berantah dan kelaparan? Tentu kita mencari rumah makan. Ada ungkapan bahwa rumah makan yang ramai adalah rumah makan yang hampir bisa dipastikan kalau makanannya enak. Rumah makan itu yang pasti disamperin. Keramaian membuat orang lain percaya bahwa ada sesuatu yang luar biasa pada tempat ramai itu. Walaupun hidup kita dikendalikan oleh pikiran dan perilaku kita, tak jarang juga kan kita mengikuti apa yang orang lain lakukan?

Menurut Rob Henderson, ada ilmu yang dinamakan ilmu psikologi sosial dimana kita tahu mengapa dan bagaimana kita bisa memikirkan, mempengaruhi, dan berhubungan dengan orang lain. Dasarnya adalah kita manusia merupakan makhluk sosial. Ilmu psikologi sosial berpendapat bahwa ada pengaruh besar dari orang lain untuk kita. Bahkan, sebenarnya kita tidak memiliki banyak kontrol atas pemikiran dan perilaku kita seperti yang kita pikirkan setelah ada pengaruh dari orang lain terhadap diri kita.

Ilmu psikologi sosial melihat adanya pengaruh polarisasi kelompok dalam sebuah komunitas atau kumpulan orang banyak. Berawal dari kelompok tersebut, orang-orang yang saling mirip atau memiliki kebutuhan dan ketertarikan yang sama akan suatu hal dapat memperkuat pendapat masing-masing orang dalam kelompok tersebut. Menurut Serge Moscovici dan Marisa Zavalloni, ketika terdapat pro kontra di lingkungan sekitar kita dan ada sikap orang lain yang sama dengan kita, keyakinan diri akan sikap tersebut cenderung lebih menguat.

Seringkali, suara orang banyak lebih membuat kita percaya bahwa mayoritas selalu benar. Jika orang lain melakukannya, otak kita menarik kita untuk berkata “itu sudah pasti benar, kan?”. Adanya bukti sosial pada orang banyak dan melihat apa yang orang lain lakukan tersebut, menurut Robert Cialdini, dapat mempengaruhi kita untuk menentukan apa yang harus kita lakukan, pikirkan, katakan, bahkan beli. Bukti sosial tersebut juga menjadi pilihan diri kita ketika disuguhi pertanyaan tentang bagaimana kita harus bertindak, sob.

Julia Coultas, seorang peneliti di Universitas Essex, menyimpulkan bahwa ketika seorang individu yang bergabung dalam sebuah kelompok, ia akan menyalin perilaku mayoritas akan menganggapnya menjadi perilaku adaptif yang masuk akal. Kecenderungan konformis akan memfasilitasi penerimaan ke dalam kelompok, terutama pada hal-hal terkait kelangsungan hidup, misalnya, untuk memilih antara makanan bergizi atau beracun, orang-orang akan mengikuti perilaku mayoritas. Walaupun begitu, kita perlu cermati, ya sob, bahwa ada beberapa hal kontekstual yang sudah terbukti, hanya saja kebenaran tentang itu belum meluas.

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 70