Kenapa Susah, Sih, Mengubah Perilaku Seseorang? Ternyata Ini Alasannya! (Part I)

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 30 Mei 2017
Kenapa Susah, Sih, Mengubah Perilaku Seseorang? Ternyata Ini Alasannya! (Part I)

Ada sebagian orang yang mau mengganti kebiasaan makan kue dengan buah-buahan itu rasanya kayak mengangkat menara Eifel pakai tangan kosong, nggak mungkin bisa. Mengubah kebiasaan berupa perilaku kita, menurut David DiSalvo, adalah tantangan untuk merekayasa diri (self-engineering) dalam waktu yang cukup lama. Proses rekayasa diri untuk berubah menjadi lebih baik tersebut perlu dilakukan berkelanjutan untuk menjadi suatu perubahan yang berarti.

Mengapa seringkali seseorang sulit berubah perilakunya?

Salah satunya karena perubahan perilaku membutuhkan waktu yang tidak sebentar, gengs. Selain itu, ada emosi negatif yang sangat kuat terus menerus membayangi kita, seperti rasa penyesalan, rasa malu, rasa takut, dan rasa bersalah. Walaupun pada beberapa penelitian terdahulu ada kesimpulan kalau rasa takut dan penyesalan mampu merubah perilaku, menurut David DiSalvo, ada satu penelitian yang me-review 129 penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa alasan positif dan menguatkan diri kita lebih mampu merubah perilaku kita dari untuk menjadi lebih baik lagi, lho.

Tetap bertahan pada pemikiran tentang kebiasaan lama, yang ternyata keliru, juga menjadi alasan mengapa kita sulit sekali berubah. Ketika kita berpikir “aku mau coba berhenti memakan lemak dan gorengan berlebihan, kalau aku gagal mencoba hari ini, yasudah, besok dicoba lagi” dan itu terjadi setiap hari tanpa ada perubahan berarti, artinya sedang terjadi distorsi dan bias kognitif dalam diri kita. Hal itu mengikat kita ke situasi yang tak jelas. Akhirnya kita malah menyerah tanpa sadar dengan pikiran kita sendiri. Menjadi diri yang lebih baik memang perlu diawali dari niat mengubah pikiran kita terlebih dahulu.

Melawan pikiran kita sendiri bisa disiasati dengan memunculkan rencana tindakan yang lebih spesifik pada hal-hal yang ingin kita ubah. Ketika kita sulit sekali berolahraga, jangan mulai dengan “aku akan mulai olahraga, deh, besok pagi”, tapi dengan “oke, aku akan berjalan kaki dari rumah ke lapangan di depan gang setiap pagi sebelum naik angkot ke tempat kerja”, misalnya. Sedikit tindakan spesifik untuk mengubah perilaku, dari waktu ke waktu, dapat menjadi perubahan kumulatif  karena sudah ada beberapa target spesifik dan realistis yang kita capai.

 

 

*Dikutip dari Forbes.

 

  • view 79