Demotivasi: Wah, Dulunya Sahabat, Sekarang Jadi Benci

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Motivasi
dipublikasikan 22 Mei 2017
Demotivasi: Wah, Dulunya Sahabat, Sekarang Jadi Benci

Kita pernah membuat rencana sempurnya, atau nyaris sempurna, dan merencanakan tujuan kita dan berhasil. Pernah juga ada saatnya kita menargetkan tujuan, tetapi kita menunda-nunda proses pencapaian tujuan tersebut. Kita pernah menulis to-do-list tentang apa saja yang harus kita selesaikan, hidup kita rapi dan menyenangkan, tetapi kemudian kita tidak memperbaharuinya lagi. Dan ini terjadi lagi, lagi, dan lagi. Sebetulnya apa masalahnya? Mengapa kita begitu pandai memikirkan apa yang harus dilakukan tapi sangat buruk dalam menyelesaikan hal-hal yang telah kita mulai?

Menurut para ahli, ketika terjadi hal seperti itu, kita telah melewatkan salah satu langkah penting dalam hidup kita. Terjadi kesalahan wajar yang setiap sistem produktifitas tubuh kita akan lakukan. Sistem produktivitas, seperti sistem yang menopang kinerja kita sehari-hari seperti pola pikir dan emosi untuk melakukan sesuatu, sebetulnya jarang memperhitungkan emosi ketika berjalan. Menurut logika sistem produktivitas kita, memang, emosi dan perasaan adalah hal mendasar serta sangat mungkin untuk tidak dapat dihindari ketika kita melakukan apa yang kita lakukan. Artinya, kita tidak bisa mengabaikan emosi kita. Hal itu dikarenakan cara kerja otak kita yang terstruktur, saat pikiran dan perasaan bersaing, perasaan hampir selalu menang karena kita tidak bisa melawan perasaan kita.

Menurut buku Switch, karya Dan Heath dan Chip Heath, emosi serta perasaan adalah bagian penting ketika kita ingin menjalankan rencana apapun. Nyatanya, kita perlu berpikir untuk merencanakan tapi kita perlu merasa untuk bertindak. Seringkali orang-orang yang menahan perasaan akan menghasilkan perasaan yang lebih buruk setelahnya. Orang tidak berdaya yang berusaha keras untuk tidak merasakan duka, menurut Eric Barker, paling lama sembuh dari rasa kehilangan mereka. Sehingga, kita perlu tahu kapan saja kita akan menunda-nunda? Apakah ketika dalam suasana hati yang buruk?

Penundaan itu terjadi karena kita masih memiliki masalah dalam manajemen mood atau suasana hati. Kita berpikir bahwa menunda itu menyenangkan. Tetapi faktanya lebih banyak kita menunda, makin banyak pula hal-hal yang harus kita selesaikan. Namun, emosi kebahagiaan yang kita rasakan dapat meningkatkan produktivitas kita setelah kita berhasil keluar dari kondisi “menunda-nunda” sesuatu. Rayakan keberhasilan itu ketika kita berhasil untuk tidak menunda-nunda atau membiarkan emosi negatif menguasai kita. Menurut Teresa Amabile, kemajuan yang kita dapatkan dapat sangat memotivasi kita. Apalagi ketika kita menghargai kemajuan tersebut.

Ada 75% motivasi pribadi terhadap pencapaian didapatkan dari penghargaan kita atas diri kita sendiri, lho, menurut Dickinson. Selain itu, motivasi yang berasal dari teman sebaya, misalnya berada dalam kelompok pertemanan yang rajin dan produktif, akan membuat kita lebih bersemangat untuk menyelesaikan suatu hal juga. Hal itu senada dengan pendapat Charles Duhigg, dalam bukunya The Power of Habit, bila orang bergabung pada suatu kelompok di mana konteks dan variabel pendukung untuk perubahan dapat terjadi, potensi perubahan itu akan menjadi lebih nyata. Stay motivated, guys!

 

 

*Dikutip dari Time

  • view 68