Saat Depresi Menyerang, Bisakah Kita Fresh Lagi dengan Bersosialisasi?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 22 Mei 2017
Saat Depresi Menyerang, Bisakah Kita Fresh Lagi dengan Bersosialisasi?

Saat sedang sangat lelah, pasti mood kita senggol bacok banget. Ada kecenderungan kita untuk menjadi depresi saat itu juga jika keadaannya sangat berat. Tapi nggak semua dari kita mampu untuk keluar dari titik depresi itu dan balik ke kondisi normal. Ada yang mendiamkannya berlarut-larut karena tak tahu pangkal permasalahannya. Ada yang memang merasa kuat dengan mencoba menghadapinya sendiri, memaksa dirinya untuk kuat. Ada juga yang menghadapi depresinya dengan mencari pencerahan dan berbicara dengan orang lain agar “sampah”-nya bisa dibuang dan di re-cycle.

Berbicara dan bersosialisasi memang berperan dalam menyembuhkan depresi yang kita alami. Namun, sejauh mana pembicaraan itu menghilangkan perasaan kita yang kalang kabut dan kacau itu? Saat kita feeling blue dan depresi, akan sangat sulit untuk bahkan bisa bangun dari tempat tidur. Pergi keluar dan berbicara dengan orang lain akan merasa seperti berjalan dengan rantai menempel di kaki. Walaupun setelah itu, keajaiban mulai terjadi, matahari terasa bersinar cerah dan menenangkan jiwa, cieee.

Atas dasar manusia adalah makhluk sosial, kebutuhan dasar kita hampir selalu berawal dari manusia serta kemanusiaan. Manusia butuh interaksi dengan sesama manusia dalam bentuk komunikasi. Berbentuk pemenuhan akan kebutuhan manusia, permasalahan yang mencoba menjatuhkan kita akan bisa kita hadapi. Melalui interaksi dengan orang lain, apapun bentuknya, dapat memberi dorongan semangat yang sama seperti mengembangkan hobi favorit ktia.

Ketika seseorang mengetahui keadaan depresi kita dan mereka mengundang kita untuk bertemu orang lain, lakukanlah. Kegiatan sosial dengan orang lain dapat memeriahkan pikiran kita. Obrolan ringan dan santai bahkan obrolan serius dan mendalam dapat mengembalikan energi kita. Minimal, kita perlu mengajak keluarga atau sahabat kita untuk sekadar pengalihan isu depresi kita dari otak kita sendiri. Tak apa sedikit menjadikan mereka tempat pelarian kita sebelum memulai kembali mengusut penyebab dari depresi kita tersebut. Tetap buka pikiran kita ya, gengs, jangan berlarut-larut tenggelam dalam depresi, nggak baik!

 

 

 

*Dikutip dari The Naked Truth

  • view 43