Anger: What You Don’t See in Me

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 16 Mei 2017
Anger: What You Don’t See in Me

 

Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan sangat tidak senang, jengkel, gusar, ingin berbuat sesuatu untuk melampiaskannya ketidakjelasan perasaan tersebut, hingga menangis karena tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan tersebut adalah kondisi kemarahan yang secara alami dimiliki oleh manusia. Menurut American Psychological Association, kemarahan atau anger merupakan salah satu bentuk emosi yang dikarakterisasi oleh peran antagonis seseorang berdasarkan apa yang ia rasakan.

Kemarahan dapat muncul karena ada yang dirasa salah berdasarkan kondisi subyektif seseorang. Selain itu, tiap orang merasakan kemarahan yang berbeda-beda berdasarkan berbagai tingkatan pada kemarahan yang dialaminya. Seseorang dapat menjadi marah ketika mengalami perlakuan tidak adil, mendengarkan kritik berlebihan, tidak mendapatkan apa yang diinginkan, terganggu dengan suasana yang tidak disukai, hingga bosan serta frustasi- yang merupakan tingkatan rendah dari kemarahan.

Walaupun terlihat sebagai pribadi yang buruk ketika tak bisa menahan kemarahan, ternyata ketika kita mengalami kondisi tersebut muncul berbagai macam solusi untuk menghadapi berbagai tantangan yang akan ada selanjutnya, lho. Misalnya, ketika terdapat permasalahan yang menyebalkan, kita akan cenderung terpacu untuk mencari solusi dan mengusir seluruh perasaan negatif keluar dari dalam tubuh. Terkadang, mengeluarkan amarah dengan baik akan sangat membantu diri kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, daripada menyesali apa yang telah terjadi dan terus menerus merasa lemah tak berdaya tanpa bisa move on.

Selain itu, ketika menyadari bahwa kita sedang dirundung kemarahan, kita akan lebih tegar dan berani ketika melihat ada ketidakadilan. Hal itu wajar karena kemarahan merupakan alarm tubuh ketika terjadi sesuatu yang tidak beres. Apalagi jika kita bijak untuk mengelola kemarahan dengan tidak melukai diri sendiri, orang lain, maupun merusak harta benda. Namun, terlalu sering melampiaskan kemarahan, tanpa tahu kapan waktu untuk berhenti, dapat memunculkan instabilitas tekanan darah serta membahayakan fisik dan mental, tuh. Rem sedikit ya, gengs, amarahnya kalau memang tidak dibutuhkan..

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

 

 

 

 

 

  • view 174