Kesan Pertama: Asal Usul yang Belum Kamu Ketahui

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 15 Mei 2017
Kesan Pertama: Asal Usul yang Belum Kamu Ketahui

Kita semua diberi tahu bahwa first impression atau kesan pertama amat penting. Paling tidak, kesan pertama di banyak artikel disebutkan begitu. Hmm, pertama-tama kita perlu tahu dulu apa itu kesan pertama. Umumnya, kesan pertama adalah kondisi yang dirasakan oleh satu orang terhadap orang lain ketika pertama kali bertemu. Michael Kurschilgen, seorang peneliti di Inggris, menemukan bahwa kesan pertama terhadap seseorang dapat mempengaruhi perilaku orang tersebut kepada kita di kemudian hari. Tak hanya ketika wawancara kerja, kesan pertama juga dirasa penting ketika berkenalan dengan calon mertua, cihuy, kapan ya dikenalin? 

Anyway, aturan-aturan dasar tentang kesan pertama, seperti senyum yang hangat, menjabat tangan, melakukan kontak mata, berbicara dengan intonasi yang baik serta mendengarkan dengan saksama, hingga berdandan rapi dan datang lebih awal, cukup ampuh membuat target kita berkesan bahwa kita adalah orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya. 

Kesan pertama tersebut, menurut James S. Uleman dan Laura M. Kressel, berawal dari adanya perbedaan cara pendeskripsian suatu hal yang dimiliki oleh satu orang dengan orang lainnya. Ilmu psikologi modern pun melihat bagaimana cara kita mendeskripsikan banyak hal yang kita lihat sebagian besar akan disimpulkan, diasumsikan, dirasakan, dan atau diperankan oleh kita sejak otak kita menganalisis apa yang kita lihat. 

Sebetulnya, gimana ya, awalnya manusia bisa tahu first impression itu? 

Menurut James S. Uleman dan Laura M. Kressel, awal mula diketahuinya konsepsi bagaimana seseorang melihat orang lain, seperti first impression, dalam sejarah barat dimulai ketika tahun 800-900 SM pada masa dewa-dewa Homer, dilanjutkan pada tahun 150 M oleh Galen yang membahas tentang empat temperamen manusia berdasarkan cairan tubuhnya (sanguinis, koleris, melankolis, plegmatis), hingga pada masa abad pertengahan yang didominasi oleh orang-orang eropa pada bahasannya tentang penekanan kondisi alami manusia melalui observasi. 

Setelah itu, Floyd Henry Allport, dalam bukunya tentang Social Psychology (1924), menuliskan tentang reaksi dari seseorang sebagai stimuli dari orang lain. Tahun 1955, James Bieri menginvestigasi tentang kompleksitas peran penilaian kognitif seseorang yang bersamaan dengan penelitian Ronald Taft tentang motivasi seseorang berpengaruh dalam memberikan penilaian terhadap orang lain. Kombinasi antara tugas-tugas kognitif, kriteria kognitif, dan penilaian kognitif dari seseorang, ditambah dengan karakteristik motivasional seseorang akhirnya diketahui dapat menentukan bagaimana seseorang tersebut memiliki kesan pertamanya dari orang lain. Begitulah cerita sejarahnya, gengs.

 

*Dikutip dari The Oxford Handbook of Social Cognition

  • view 66