Bebas Temukan Tujuan Hidupmu, Siapa Takut?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 10 Mei 2017
Bebas Temukan Tujuan Hidupmu, Siapa Takut?

Manusia terlahir dengan kebebasan untuk hidup. Ketika dilahirkan ke dunia, ia mutlak memiliki kondisi bebas terbatas. Filsuf Immanuel Kant menyebutkan bahwa “jika manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih, maka tidak masuk akal kalau kita diminta untuk memilih jalan kebaikan”. Artinya, manusia diberikan pilihan. Hanya saja, berbagai jenis manusia di dunia ini merasa tak punya pilihan dan tak yakin bahwa pilihannya bisa ia modifikasi sendiri dengan kuasanya, tanpa melupakan adanya kuasa universal dari Tuhan.

Manusia memiliki kebebasan untuk memilih bagaimanapun caranya untuk mendapatkan kebaikan. Ajaran Qadariyah dalam Islam pun memberikan pengetahuan yang sama tentang kebebasan manusia untuk menghindari kondisi kepasrahan jika situasi lemah terjadi dalam hidupnya. Di tengah-tengah sistem yang ada pada dunia, kebebasan manusia dalam bertindak dan anjuran untuk berjalannya tindakan bebas didukung penuh oleh keadaan. Keadaan yang ada saat itulah yang membuat kebebasan manusia menjadi terbatas. Bahkan mungkin terlihat seperti tidak ada kebebasan. Benarkah? Bukankah adanya kebebasan selalu ada bersama dengan adanya ketidakbebasan? Seperti ada Yin dan ada Yang?

Kathleen Vohs dan Jonathan Schooler melalukan sebuah percobaan tentang kebebasan manusia. Dalam percobaan tersebut terdapat kelompok yang diberikan informasi berupa kebebasan hanyalah ilusi manusia dan kelompok yang tidak diberikan informasi apapun. Berdasarkan percobaan tersebut diketahui bahwa orang yang kurang memiliki kepercayaan akan kebebasan individu akan lebih bertindak amoral, tanpa mengingat moralitas yang mereka miliki. Saat kelompok tersebut belum mengerti, mereka berhenti percaya bahwa mereka adalah individu yang bebas seperti kutipan Immanuel Kant di atas. Mereka pun berhenti pula melihat dirinya dapat disalahkan karena tindakan yang mereka lakukan. Sehingga, di mata mereka, kebebasan terlihat abstrak dan tidak hakiki.

Kebebasan dalam diri manusia diapat dicapai dari perkembangan manusia itu sendiri yang muncul ketika ia mulai mengetahui tentang kebebasan dan percaya akan fungsi ia dilahirkan di dunia. Entah diawali dengan ketertarikan akan suatu hal, atau karena diawali dengan paksaan oleh kondisi sekitar. Seperti burung dalam sangkar, ketika ia mengetahui seluruh potensi dirinya dan kebebasan yang ia miliki, ia akan memanfaatkan kekuatannya untuk menjalani keadaan bebas dengan tanggung jawab akan kebebasannya tersebut. Jadi, sudah siap kah kamu menjadi manusia yang bebas dan utuh?

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber

 

 

  • view 86